Komunitas Novisiat Anna Chatarina

 

Dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu 24 tahun (1938-1962) Kongregasi tidak berani membuka Novisiat di Indonesia. Hal itu disebabkan oleh trauma para Suster Misionaris yang pernah tinggal cukup lama di Negara RRC (Republik Rakyat Cina). Saat panggilan bertumbuh subur bagi Kongregasi PMY terjadilah “Revolusi Kebudayaan” di RRC. Sudah bisa dibayangkan akibatnya kehancuran terjadi di segala bidang termasuk Suster pribumi tercerai berai tidak diketahui nasibnya. Mereka ditinggalkan oleh para Suster Misionaris, hal itu terjadi karena memang situasi menghendaki demikian. Rupanya Tuhan menghendaki lain atas Kongregasi Suster PMY. Meskipun para Suster misonaris mengalami penderitaan jiwa dan raga akibat pengusiran oleh pemerintah RRC, namun mereka bisa selamat sampai di Indonesia. Dan trauma itu akhirnya sirna ketika ada pemudi yang sangat serius ingin bergabung  dengan para Suster PMY. Hal itu diyakini sebagai tanda bahwa Tuhan menghendaki  Kongregasi Suster PMY ada di bumi Indonesia. Maka dengan mempercayakan kepada Penyelenggaraan Ilahi, para Suster membuka tangan bagi kehadiran para pemudi yang ingin bergabung dengan Kongregasi Suster  Putri Maria dan Yosef.

Pada tahun 1963, dibuka secara resmi Novisiat Suster PMY  dengan keputusan resmi dari Algemene Overste yang ada di pusat Nederland, Sr. Elize, yang diteguhkan pula dengan Surat Pengukuhan Tahta Suci No. 1103, tanggal 27 Juni 1963. Pada pertama kalinya, jabatan Magistra dipegang oleh Sr. Leonardo Tooten yang  telah menjabat sebagai Suster Missie-Overste. Jabatan rangkap terjadi karena : Jumlah Suster Misionaris Belanda yang ada di Indonesia hanya 7 orang dan semuanya bekerja penuh di Lembaga Pendidikan anak tuna rungu Dena-Upakara. Sr. Leonardo memegang perutusan sebagai magistra sampai pada tahun 1984.

Sejak dibuka novisiat, satu dua pemudi mulai bergabung, dan para postulan  dan novis dididik di komunitas pusat, tingal bersama dengan para Suster profes yang berkarya. Namun karena Overste dan Magistra ada di satu tangan, maka kepemimpinan komunitas dan kempemimpinan novisiat yang berada di satu tempat dapat berjalan dengan baik. Pada permulaan novisiat, para postulan dan novis ikut bekerja di Lembaga Pendidikan Dena-Upakara sambil mendapat pendidikan sebagai seorang calon religius.

Berhubung semakin banyak pemudi yang bergabung dengan Kongregasi PMY, juga karena Sr. Leonardo sudah semakin lanjut usianya, beliau harus kembali ke Negeri Belanda pada bulan Maret 1984. Sebagai penggantinya adalah Sr. Gertrudis hingga bulan Agustus  tahun 1985. Sejak bulan Agustus 1985  tugas perutusan di novisiat sebagai Magistra diserahkan kepada Sr. Antonie Ardatin PMY sampai tahun 1995. Untuk selanjutnya telah terjadi beberapa kali penggantian Magistra dan Socio (terlampir) hingga saat penulisan naskah ini.

Untuk memberi bekal kepada para postulan dan novis, disusunlah program pembinaan yang menyangkut pendidikan Iman, Kitab Suci dan Gereja, Spiritualitas dan Kharisma Tarekat,   Kebiaraan, Kepribadian, Humaniora, Pengolahan Hidup, Awarness Meditation and Relaxatation (Healing) dan lainnya yang mendukung pendidikan di novisiat. Selain dari pada itu, setelah berkonsultasi dengan penasihat Tarekat yaitu Romo Soenarjo SJ, untuk menambah bekal pengetahuan dan juga supaya para postulan dan novis bisa lebih luas dalam pergaulan dan wawasannya maka mulai bulan Juli 1985 novisiat ikut bergabung pula Kursus Gabungan Novisiat di Solo. KGN ini merupakan gabungan dari Noviat Tarekat PI, MASF, BKK, FIC dan akhirnya PMY. Dalam tema-tema tertentu Sr. Antonie PMY dan Sr. Patricia PMY memberi kursus kepada postulan atau pun novis yang tergabung dalam KGN. Pernah dicoba pula, postulan PMY diikutsertakan dalam Kursus Bina Awal yaitu Kelompok Novisiat di wilayah Kevikepan Yogyakarta. Namun karena kurang efektif maka keikutsertaan di KUBINA Yogyakarta sempat dihentikan, namun dengan berbagai  pertimbangan, mulai tahun 2013, para postulan diikutsertakan di dalam kegiatan di KUBINA, dan tetap mengikuti kegiatan KGN di Solo.

Karena jumlah peminat semakin banyak, para postulan dan novis tidak lagi bisa tinggal di Komunitas Pusat karena terlalu penuh. Maka dibangunlah gedung novisiat di kompleks Biara Induk Wonosobo pada awal tahun 1985. Pada tangal 4 Oktober 1988, gedung novisiat diberkati oleh Romo P. Rozemeijer MSC, dihadiri pula oleh Algemeen Overste yaitu Sr. Cecilia v.d Poel dan Romo van Eijdhoven, Direktur Instituut Voor Doven St. Michelgestel Nederland yang kebetulan hadir untuk merayakan Pesta Emas 50 tahun Lembaga Pendidikan Anak Tuli Dena-Upakara. Gedung Novisiat yang baru diresmikan diberi nama Novisiat Anna Chatarina. Nama ini diambil dari nama Sr. Anna Chatarina van Hees Suster pertama dari Kongregasi Suster PMY dengan maksud supaya para calon-calon Suster PMY ini meniru teladan hidup Sr. Anna Chatarina van Hees yang suci dan setia hingga akhir hayatnya.

Pada tahun 1994, Novisiat PMY diundang untuk bergabung dengan Novisiat Serikat Yesuit dan Novisiat yang telah bergabung yaitu Novis Kongregasi AK dan OSF dalam acara Pekan Kaul Bersama (PKB). Saat ini PKB diikuti oleh beberapa Novis dari Tarekat SJ, CSA, AK, OSF, PMY, PI, FMM. Kegiatan ini khusus bagi para Novis II untuk merefleksikan pengetahuan dan praktis hidup mereka,  secara khusus dalam penghayatan hidup sebagai religius yang berkaul.

Dengan berbagai kegiatan, diharapkan bahwa para calon religius khususnya di Kongregasi Suster PMY, bisa menjadi seorang Religius yang handal, kuat dalam iman, terampil dalam hidup dan cekatan dalam pelayanan kepada sesama. Meski pun dalam jumlah tetap yang terkecil di antara yang lain, namun selalu mencoba untuk besar di dalam Iman, Harapan dan Kasih kepada sesama. Maka dengan mempercayakan diri kepada kebaikan hati Allah, para Formator bersama para Postulan dan Novis siap melangkah untuk melanjutkan peziarahan hidup ini. Allah menyelenggarakan segala sesuatunya baik adanya.


Komunitas Noviciat Anna Chatarina