JPIC (Justice, Peace and Integrity of Creation)

Nilai-nilai JPIC sebenarnya telah ada dalam Kongregasi sejak permulaan karena nilai-nilai ini adalah nilai-nilai spiritualitas PMY yang jelas ditulis oleh pendiri dalam Konstitusi. Pada awalnya Kongregasi hanya memahami bahwa JPIC merupakan kegiatan yang berkaitan dengan usaha-usaha pelestarian lingkungan hidup. Maka pada kapitel transisi tahun 1997 diputuskan untuk memulai karya rintisan pemberdayaan guna menanggapi kebutuhan zaman berkaitan dengan issue kerusakan lingkungan hidup yang menjadi himbauan dalam pertemuan pada pemimpin religious yang bergerak di bidang keadilan dan keutuhan ciptaan di Kemah Gede, Pacet, Jawa Barat pada Desember 1996. Selain dari melaksanakan hasil hasil pertemuan tersebut, Kongregasi juga memperhatikan Konstitusi No. 47 & 49 dan statuta  No. 1.6 tentang perutusan gereja Indonesia “Dalam masyarakat Indonesia ada keprihatinan yang mendalam, akibat pembangunan yang menitikberatkan pembangunan ekonomi dan ‘revolusi’ teknologi, yaitu banyak rakyat yang menjadi korban ketidakadilan dalam pembangunan tersebut. Dalam situasi tersebut, Suster-suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef di Indonesia diharapkan dapat memberikan kesaksian akan nilai-nilai Injil lewat hidup dan karyanya.”

Karya pemberdayaan ini memberi perhatian/pelayanan kepada para petani karena:

  1. Negara Indonesia sebagai negara agraris, sebagaian besar penduduknya adalah petani dan sebagiannya lagi adalah petani miskin.
  2. Terkait dengan kerusakan lingkungan dan penggunaan bahan-bahan kimia dalam budidaya pertanian mereka.
  3. Kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada petani.
  4. Petani memproduksi bahan pangan untuk kita semua.
  5. Petani sering dijadikan “obyek” oleh kaum kapitalis.
  6. Petani merupakan kelompok yang hampir selalu kalah.

Karya ini dimulai di Wonosobo melalui kelompok petani muda untuk pertanian sayuran yang sudah didampingi di desa Grugu, Buntu dan Wates. Kemudian karya pemberdayaan semakin berkembang di daerah lain seperti Purworejo dan Klaten untuk petani padi yang masih terus dilakukan hingga saat ini. Dalam perkembangannya kongregasi menyadari bahwa karya pemberdayaan yang telah dilakukan bukan hanya dalam bidang pertanian tetapi juga mencakup berbagai bidang kehidupan baik itu kesehatan, pendidikan maupun peningkatan ekonomi. Dan sasaran pemberdayaan juga semakin luas, bukan hanya untuk petani tetapi juga perempuan dan anak yang mengalami kekerasan, juga anak-anak berkebutuhan khusus. Hal inilah yang kemudian disadari bahwa untuk mencakup bidang-bidang tersebut perlu sebuah wadah yang mampu mengakomodasi karya-karya tersebut. Pada kapitel umum tahun 2017 hal ini menjadi materi refleksi dan pembahasan dalam bab karya kerasulan yang akhirnya menghasilkan rekomendasi kapitel umum D.2. “Kapitel umum menugaskan DPU untuk tetap menstimulasi karya-karya kerasulan. Misi yang tak akan pernah berhenti ini hendaknya tetap disemangati dan digiatkan di kedua regio.” Berdasarkan pada rekomendasi kapitel umum ini, maka pada tahun 2018 kongregasi membentuk badan JPIC, namun belum ada kepastian arah dan dasar dalam melaksanakannya. Baru pada bulan Juni 2019 kongregasi memperbarui kembali tim JPIC dengan retret di bawah bimbingan Rm. Peter Aman OFM. Dalam retret tersebut muncul kesadaran baru, bahwa JPIC merupakan nilai-nilai dan semangat hidup PMY. Hal ini pun semakin diperkuat dengan melanjtukan pertemuan JPIC untuk membaca Konstitusi dari perspektif JPIC. Semakin jelas sudah bahwa apa yang dihayati dan sudah dilakukan selama ini merupakan pengejawantahan nilai-nilai tersebut. Dalam pertemuan ini juga dihasilkan arah dasar JPIC dan program kerja untuk selanjutnya menjadi pedoman dalam mengejawantahkan nilai-nilai JPIC dalam cara dan sikap hidup.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.