Permulaan abad XIX merupakan masa suram bagi masyarakat daratan Eropa, karena pada masa itu terjadi pergolakan akibat penaklukan Napoleon. Suasana kacau melanda di setiap negara Eropa, tak terkecuali Negara kecil Belanda. Situasi menyedihkan yang terjadi di Belanda adalah kesengsaraan di segala bidang kehidupan. Kehancuran fisik/materi dapat disaksikan di mana-mana. Banyak tentara gugur yang mengakibatkan anak-anak menjadi yatim dan ibu-ibu menjadi janda, orang lanjut usia tidak terawat. Dampak langsung yang dapat dilihat adalah kemiskinan yang hebat di antara rakyat.

Situasi yang memprihatinkan itu menantang seorang Imam Projo yang masih amat muda, yaitu Pastor Jakobus Antonius Heeren Pr untuk melakukan sesuatu sebagai usaha mengatasi situasi tersebut. Dia menyaksikan penderitaan rakyat akibat kemiskinan, lebih dari sepertiga penduduk kota tergantung dari sedekah, banyak anak tidak terurus baik kehidupannya maupun pendidikannya, banyak di antara mereka berkeliaran karena tidak bersekolah, dan banyak orang lanjut usia terlantar. Penderitaan rakyat semakin berat karena terjadi pula kekosongan besar di bidang agama, sehingga krisis iman pun tidak dapat dihindari.

Berbekal iman, cinta dan semangat besar untuk menolong sesamanya, terlebih yang menderita, maka Pastor JA Heeren Pr ingin berbuat sesuatu secara efektif. Dia ingin meringankan penderitaan sesama dari kesengsaraan jiwa, raga dan rohaninya. Digerakkan oleh kebutuhan yang mendesak JA Heeren segera menemui beberapa wanita yang menyediakan diri untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Bagaikan gayung bersambut, niat JA Heeren disambut dengan antuasias oleh wanita-wanita yang memang memiliki kepedulian terhadap penderitaan sesama. Mula-mula mereka diminta untuk mengumpulkan anak-anak yatim/terlantar untuk diasuh atau dicarikan orangtua asuh yang sanggup merawat dan mendidiknya, juga mencari orang-orang yang bersedia merawat orang-orang jompo, membantu janda-janda supaya belajar hidup mandiri secara ekonomi sehingga mampu menghidupi diri sendiri. Dengan penuh setia dan semangat wanita-wanita itu mengunjungi keluarga dari rumah ke rumah dan mencari orang-orang yang membutuhkan pertolongan sekaligus mencari orang-orang yang mau dan mampu untuk terlibat dalam karya pelayanan bagi mereka yang menderita.

Mereka menyadari betul, bahwa sebagai orang beriman tidak terlepas dari campur tangan Allah yang menyelenggarakan segala sesuatunya, maka mereka terus menerus menjalin relasi akrab dengan Tuhan dalam doa untuk  mencari kehendak-Nya. Mereka, Pastor Heeren dan wanita-wanita yang membantunya secara rutin mengadakan pertemuan untuk membicarakan segala masalah yang berkaitan dengan karya pelayanan. Pertemuan tersebut diadakan di rumah Anna Catharina van Hees, salah satu wanita yang suci dan aktif dalam karya pelayanan yang diprakarsai oleh Pastor JA Heeren. Mengenai Anna Catharina van Hees dikatakan bahwa ia adalah seorang wanita muda yang dianugerahi kehidupan rohani yang mendalam, mempunyai semangat luar biasa untuk menolong orang lain yang berada dalam kesengsaraan. Maka tidak mengherankan bahwa  dia diangkat menjadi pemimpin bagi para wanita sukarelawan. Ia senantiasa memberikan yang paling baik bagi sesama/rekan kerjanya, terlebih bagi mereka yang dilayani. Dialah Suster pertama di Kongregasi Suster Putri Maria dan Yosef yang didirikan secara resmi oleh Pastor JA Heeren Pr, pada tanggal 7 Juli 1820 di ‘s Hertogenbosch Negeri Belanda.

Untuk Kongregasi yang didirikan, Pastor Heeren memberikan nama “Suster-Suster Cinta Kasih Putri-Putri Maria dan Yosef”. Dengan nama itu Pendiri bermaksud supaya para Susternya mengakui dan memilih Santa Perawan Maria yang terberkati sebagai Ibu dan Pelindung Tertinggi, dan Santo Yosef sebagai Pelindung Utama dan Khusus di samping Bunda Maria.

Dari Pedoman Khusus 1852 no. 1 , Pendiri menulis :”……..dan karya cinta kasih ini dilaksanakan dengan kasih sayang yang hangat menurut semangat Santo Vincentius a Paulo, tanpa membedakan golongan atau agama orang yang dilayani”. Dengan menulis itu, Pendiri menanamkan Spiritualitas St. Vincentius a Paulo dalam hidup dan karya Suster PMY.

Dalam perjalanan waktu, Kongregasi yang didirikan Pastor JA Heeren Pr, dan yang telah disetujui oleh Tahta Suci berkembang dalam jumlah serta dalam bentuk karya pelayanan. Setelah melewati beberapa tahun, rupanya Tuhan menghendaki agar Kongregasi Suster PMY mengembangkan sayapnya  di luar  Eropa. Atas Penyelenggaran Allah, Kongregasi Suster PMY yang penaburan benihnya pertama kali di Belanda, akhirnya sampai  ke Indonesia pada tahun 1938,  dan benih yang ditabur itu tumbuh dan berkembang serta berbuah hingga sekarang tahun 2013.

KONGREGASI SUSTER PMY DI INDONESIA (1938 – 2013)

MERENDA WAKTU DALAM CINTA KASIH BAGI SESAMA

Hampir 2 abad Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Putri-Putri Maria dan Yosef (PMY) berkarya sejak didirikan di s’Hertogenbosch, Belanda pada tangal 7 Juli 1820. Kongregasi PMY menghayati semangat “In Omnibus Caritas” (Cinta kasih dalam segala-galanya), kemudian berkembang ke berbagai negara termasuk Indonesia. Sebuah proses perjalanan yang  panjang dengan pelayanan yang telah dikerjakan yaitu melayani sesama terutama kepada mereka kaum papa miskin.

Di Indonesia, Kongregasi PMY lahir tanggal 15 Maret 1938 oleh para suster misionaris Belanda dan tanah kelahiran PMY di Indonesia berada di Wonosobo, daerah sejuk di balik Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, Jawa Tengah. Sesuai dengan tujuan khas kongregasi yaitu karya cinta kasih bagi mereka yang miskin, lemah dalam masyarakat, baik miskin secara jasmani maupun rohani, maka karya-karyanya adalah melayani anak-anak tunarungu di SLB/B Dena-Upakara, karya kesehatan di pedesaan, pemberdayaan petani dan perempuan  yang  berkembang ke pendampingan CU Lestari,  pastoral, pendampingan anak-anak stasi yang tinggal di asrama milik Paroki,  terlibat dalam pendidikan formal di sekolah umum (SMP milik Paroki St. Paulus Wonosobo), dan  kemasyarakatan.

Pada tahun 1968 mulailah para suster berkarya di Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS) dengan memberi kursus menjahit kepada ibu-ibu yang suaminya menjadi tahanan politik. Dari karya penjahitan meluas ke karya pendidikan anak-anak tak mampu, kemudian karya kesehatan dan pelayanan untuk para lansia milik YSS. Dalam perjalanan waktu, kongregasi  bekerjasama dengan Kongregasi Bruder FIC yang berkarya di bidang pendidikan umum/khusus, dan beberapa waktu yang lalu ada beberapa suster bekerja di rumah retret milik Bruder FIC tetapi karena kekurangan tenaga suster maka sekarang tidak ada lagi yang bekerja di rumah retret tersebut.  Para suster juga terlibat dalam kegiatan paroki dan di dalam masyarakat. Selanjutnya, untuk pelayanan bagi lanjut usia, kongregasi mengelola Panti Wreda Catur Nugroho di Kaliori, Banyumas.

Pengembangan Komunitas

Untuk mengembangkan karya kongregasi, didirikanlah komunitas di salah satu perkampungan di Semarang yakni di kawasan Randusari Sepaen (dekat dengan Gereja Katedral). Tujuan didirikannya komunitas di antaranya karena permintaan dari para bruder Kongregasi FIC untuk bersama-sama menangani misi di Semarang dan sekitarnya. Saat itu ada 3 suster yang terlibat dan mereka memberi pelajaran serta keterampilan menjahit kepada para wanita, mendirikan sekolah untuk anak-anak miskin, bekerja di poliklinik dan merawat orang jompo. Di kemudian hari mereka aktif di sekolah-sekolah menengah para bruder. Lambat laun mereka menyerahkan karya tersebut kepada para suster Indonesia. Akan tetapi, karena pada akhirnya para suster harus pensiun, maka mereka tidak terlibat lagi dalam karya kasih tersebut, namun mereka tetap aktif di bidang pastoral dan terlibat di dalam pendidikan di sekolah-sekolah dan menetap di Jl. Randusari Spaen II/300 (024-8314247) Semarang.

Tahun 1989 dibukalah komunitas di Klaten, dengan karya pendidikan, pastoral dan berkembang ke pelayanan di bidang pemberdayaan petani/masyarakat kecil. Berkat ketekunan dan kerjasama yang baik antara suster dengan anggota masyarakat, maka terbentuklah Paguyuban Petani Sari Pratiwi pada tahun 1997 dengan perhatian khusus pada pertanian organik terutama beras dan  menjaga kelestarian alam. Komunitas bekerjasama dengan CU Lestari yang telah terbentuk di Wonosobo, terbentuklah CU “Ngudi Rejeki” untuk mendukung pertumbuhan ekonomi rakyat.  Selain itu, komunitas memberi pendidikan  secara sederhana kepada anak-anak yang mempunyai kebutuhan khusus baik secara fisik ataupun mental,  dan bekerjasama dengan donatur membantu mensukseskan Pogram Pemerintah  Wajib Belajar Pendidikan Dasar  kepada anak-anak yang tergabung dalam Anak  Asuh  “Dena-Raharja” dengan memberi beasiswa kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan.

Karya suster PMY yang sederhana, tulus, merakyat dan membawa berkat bagi masyarakat, ternyata memotivasi seorang gadis yang pada tahun 1991 mendaftarkan diri sebagai postulan dan tak lama kemudian disusul beberapa gadis dari daerah Klaten dan sekitarnya untuk bergabung ke kongregasi. Melihat kenyataan tersebut, rumah yang dikontrak kemudian ditinggalkan dan pimpinan berani membangun gedung susteran sendiri yang lebih besar dan permanen dengan alamat : Talun No 14 RT 01/RW 04, Prawatan, Jogonalan, Klaten.

Dua tahun setelah Klaten lahir, yaitu pada tahun 1991, Komunitas Jakarta menyusul berdiri. Pendirian rumah Jakarta selain untuk mengembangkan komunitas PMY juga  untuk memenuhi  permintaan bruder FIC suapaya ada suster PMY yang menjadi guru di sekolah anak tunarungu SLB/B Pangudi Luhur. Awalnya 2 orang suster yang diutus, oleh pimpinan untuk sementara tinggal di sebuah rumah kosong milik seorang wali murid. Baru pada tahun 1993 dibangun sebuah rumah untuk tempat tinggal tetap mereka. Sejak awal, waktu suster habis untuk mengajar di sekolah, maka hampir tak ada waktu untuk kegiatan pastoral dan sosial. Namun karena kini keduanya sudah memasuki masa pensiun dan hendak berkarya  pastoral serta kegiatan sosial, maka  tinggal satu suster yang masih aktif mengajar di SLB/B Pangudi Luhur Jakarta. Untuk efektifitas pelayanan pastoral, maka pada tahun 2011, komunitas pindah dari Srengseng ke Meruya Selatan, masih dalam wilayah satu paroki yaitu Gereka Maria Kusuma Karmel Meruya Selatan, Jakarta Barat.

Harapan besar bahwa Tuhan akan menambah jumlah anggota suster di kongregasi, supaya  kongregasi semakin mampu terlibat di dalam pewartaan Kerajaan Allah, bukan hanya di wilayah Jawa Tengah tetapi juga di wilayah-wilayah lainnya yang membutuhkan.

Tuhan menyelenggarakan segala sesuatu sesuai dengan rencana dan kehendakNya.      Itulah kata-kata yang tepat untuk hadirnya Komunitas Suster PMY di daerah Yogyakarta. Kongregasi dihadapkan pada kebutuhan masyarakat untuk memperhatikan   anak-anak yang berkebutuhan khusus ganda tunarungu dan tunarungu-netra. Pada tahun 1995, setelah melalui refleksi panjang, kongregasi sepakat menerima tawaran dari Yayasan Helen Keller Belanda untuk membuka Sekolah dan Asrama SLB/G – AB Helen Keller Indonesia, yang beralamat di Jl. R. E Martadianata 88A Yogyakarta – 55253. Saat ini HKI mendidik anak-anak tunarungu-wicara dan tunarungu-wicara plus tuna lainnya, dengan jumlah anak 30 putra/putri. Karya tersebut adalah pengembangan dari karya pendidikan anak tunarungu SLB/B “Dena-Upakara” Wonosobo. Dengan semangat St. Vinsentius, kongregasi berusaha untuk setia melayani mereka yang lemah, miskin, tersingkir dan difable.

Di Purworejo, Jawa Tengah, Kongregasi PMY juga mengemban misi kemanusiaan. Hal itu terjadi pada tahun 1999, setelah Yogyakarta,   Purworejo  komunitas kelima di luar Wonosobo. Komunitas tersebut hadir atas permintaan  keuskupan (Purwokerto) kepada semua kongregasi yang ada di wilayah keuskupan Purwokerto untuk mendirikan komunitas di desa untuk blusukan, dan di kota untuk mendukung paroki dan membantu mereka yang perekonomiannya lemah. Melanjutkan karya kasih yang sudah dikembangkan para suster bagi petani di Wonosobo dan Klaten, para suster juga berkarya untuk petani  untuk meningkatkan produksi, sekaligus memberi pelajaran agama bagi anak-anak. Selain itu juga melakukan kunjungan ke rumah-rumah terutama keluarga yang sakit, dan ikut ambil dalam berbagai aktivitas diparoki di mana mereka tinggal di Jl. Husada (Seb. Barat Kawedanan), Rt. 02/Rw.01 Purwodadi, Purworejo – 54173.

Adapun komunitas termuda di luar Wonosobo adalah komunitas Kaliori yang hadir atas permintaan bapak Uskup Purwokerto untuk merawat orang-orang lanjut usia di daerah Purwokerto. Lokasi itu berada di Kompleks Gua Maria Kaliori, Banyumas. Panti Wreda hadir atas dukungan dari berbagai donasi dan didukung pula oleh pastor setempat. Harapan dan permintaan tersebut segera ditindaklanjuti oleh para Suster PMY pada tahun 2003 dan berdirilah rumah lansia “Catur Nugroho”.  Di samping merawat orang lansia, mereka juga disibukkan dengan pendidikan agama bagi anak-anak, mendampingi remaja dan tugas pengajaran di sekolah umum.

Di sepanjang perjalanan, kongregasi tetap melaksanakan visi dan misi awal hingga berkembang sampai saat ini. Seperti sekolah tuna rungu, yang  pada mulanya  hanya ada 25 siswa berkembang menjadi 72 siswa dan selanjutnya berkembang terus di atas 100 siswa/siswi, sehingga di tahun 1950-an ada pemisahan antara siswa putra dan siswi putri. Siswa putri tetap dibimbing para suster sedang siswa putra dipindahkan ke lembaga tuna rungu Don Bosco yang dikelola Bruder Caritas.

Selain berkarya di bidang pendidikan luar biasa, kongregasi terus berkarya untuk mereka yang membutuhkan dan relevan pada zamannya, misalnya terlibat di dalam kegiatan pastoral dan kegiatan kemasyarakatan,  bekerjasama dengan  LSM  membantu korban Human komunitas juga mendampingi Alumni Dena-Upakara & Don Bosco (ADECO),

NOVISIAT ANNA CATHARINA

“Besar dalam iman, harapan dan kasih”

Dalam rentang waktu yang cukup lama, sekitar 24 tahun (1938-1962) Kongregasi  PMY tidak berani membuka Novisiat di Indonesia. Hal itu disebabkan oleh trauma para suster misionaris yang pernah tinggal di Negara Republik Rakyat Cina (RRC). Saat panggilan bertumbuh cukup banyak di Negara RRC ( subur bagi Kongregasi PMY), terjadilah “Revolusi Kebudayaan” di RRC. Bisa dibayangkan akibatnya, kehancuran terjadi di segala bidang termasuk suster pribumi tercerai berai tidak diketahui nasibnya. Mereka ditinggalkan oleh para suster misionaris, hal itu terjadi karena memang situasi menghendaki demikian.

Rupanya Tuhan menghendaki lain atas Kongregasi Suster PMY. Meskipun para suster misonaris mengalami penderitaan jiwa dan raga akibat pengusiran oleh pemerintah RRC, namun mereka bisa selamat sampai di Indonesia. Trauma itu akhirnya sirna ketika ada pemudi yang sangat serius ingin bergabung  dengan para suster PMY. Hal itu diyakini sebagai tanda bahwa Tuhan menghendaki Kongregasi Suster PMY ada di bumi Indonesia. Maka dengan mempercayakan kepada Penyelenggaraan Ilahi, para suster membuka tangan bagi kehadiran para pemudi yang ingin bergabung dengan Kongregasi PMY.

Pada tahun 1963, dibuka secara resmi Novisiat Suster PMY  dengan keputusan resmi dari Algemene Overste yang ada di pusat Nederland, Sr. Elize, yang diteguhkan pula dengan Surat Pengukuhan Tahta Suci No. 1103, tanggal 27 Juni 1963. Pada pertama kalinya, jabatan Magistra dipegang oleh Sr. Leonardo Tooten yang telah menjabat sebagai Zuster Missie-Overste. Jabatan rangkap terjadi karena jumlah suster misionaris Belanda yang ada di Indonesia hanya 7 orang dan semuanya bekerja penuh di Lembaga Pendidikan Anak Tunarungu Dena Upakara. Sr. Leonardo memegang perutusan sebagai magistra sampai pada tahun 1984.

Sejak dibuka novisiat, satu dua pemudi mulai bergabung, para postulan dan novis dididik di komunitas pusat, tinggal bersama dengan para suster profes yang berkarya. Namun karena Overste dan Magistra ada di satu tangan juga kepemimpinan komunitas dan kepemimpinan novisiat yang berada di satu tempat,  maka dapat berjalan dengan baik. Pada permulaan novisiat, para postulan dan novis ikut bekerja di Lembaga Pendidikan Dena Upakara sambil mendapat pendidikan sebagai seorang calon religius.

Berhubung semakin banyak pemudi yang bergabung dengan Kongregasi PMY dan karena Sr. Leonardo sudah semakin lanjut usianya juga karena beliau harus kembali ke negeri Belanda pada bulan Maret 1984, maka sebagai penggantinya adalah Sr. Geertrudis hingga bulan Agustus  tahun 1985. Sejak bulan Agustus 1985  tugas perutusan di novisiat sebagai Magistra diserahkan kepada Sr. Antonie Ardatin, PMY., yang saat ini menjabat sebagai provinsial.

Pengembangan Fisik Gedung

Para postulan dan novis akhirnya tidak lagi bisa tinggal di Komunitas Pusat karena terlalu penuh dengan bertambahnya peminat. Maka dibangunlah gedung novisiat di kompleks Biara Induk Wonosobo pada awal tahun 1985. Pada tangal 4 Oktober 1988, gedung novisiat diberkati oleh Rm. P. Rozemeijer MSC, dihadiri pula oleh Algemeen Overste yaitu Sr. Cecilia v.d Poel dan Pater van Eijdhoven, Direktur Instituut Voor Doven St. Michelgestel Nederland yang kebetulan hadir untuk merayakan Pesta Emas 50 tahun Lembaga Pendidikan Anak Tunarungu Dena Upakara. Gedung novisiat yang baru diresmikan diberi nama Novisiat Anna Catharina. Nama ini diambil dari nama Sr. Anna Catharina van Hees, suster pertama dari Kongregasi Suster PMY dengan maksud supaya para calon-calon Suster PMY ini meniru teladan hidup Sr. Anna Catharina van Hees yang suci dan setia hingga akhir hayatnya.

Untuk memberi bekal kepada para postulan dan novis, disusunlah program pembinaan yang menyangkut pendidikan iman, Kitab Suci dan Gereja, Sejarah, Spiritualitas dan Karisma Kongregasi PMY,  kebiaraan, kepribadian, humaniora, pengolahan hidup, Awarness Meditation and Relaxatation (Healing), dan lainnya yang mendukung pendidikan di novisiat. Selain itu, untuk menambah bekal pengetahuan dan luas dalam pergaulan serta  wawasan, mulai Juli 1985 novisiat ikut bergabung dalam Kursus Gabungan Novisiat (KGN) di Solo. KGN ini merupakan gabungan dari Novisiat Kongregasi PI, MASF, BKK, FIC,  PMY, SND.

Dalam tema-tema tertentu Sr. Antonie PMY memberi kursus kepada postulan atau pun novis yang tergabung dalam KGN. Para postulan dan novis juga dibina untuk mengolah rasa melalui kesenian, seperti belajar dan bermain musik serta menari. Mereka juga mengikuti kursus komputer sebagai bentuk tanggapan atas situasi zaman yang serba elektronik dan untuk bekal bekerja nantinya. Mereka juga belajar melayani orang miskin seperti yang diteladankan St. Vinsensius dengan mengunjungi orang-orang sakit dan lanjut usia. Mereka juga melayani anak-anak sekolah minggu di stasi desa.

Rohani, jasmani, pengetahuan, dan rasa haruslah mendapatkan porsi yang seimbang. Demikian juga dalam berkomunikasi satu sama lain memerlukan keseimbangan. Bahasa yang digunakan tentu saja bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Tetapi sekarang mulai dituntut juga belajar bahasa asing, seperti bahasa Inggris dan Belanda. Hal itu untuk mempersiapkan para calon di hari depan dalam menghadapi kemandirian kongregasi. *

Sejarah Singkat Pendiri

Permulaan abad 19 adalah masa yang sulit bagi daratan Eropa berhubung dengan perang yang berakibat pada penderitaan yang mendalam bagi rakyat, tak terkecuali negeri Belanda. Berpuluh-puluh ribu orang, baik tentara maupun sipil gugur maka timbullah kemiskinan hebat di antara rakyat biasa.

Pastor Yakobus Antonius Heeren Pr dihadapkan pada keadaan tersebut. Ia melihat banyak kemiskinan dan kesengsaraan. Sepertiga dari penduduk sangat tergantung pada sedekah, banyak anak tidak terurus berkeliaran di jalan-jalan, orang-orang lanjut usia tidak terurus, banyak orang jatuh ke dalam jurang kemiskinan dan kesengsaraan, dan terjadilah kekosongan besar di dalam kehidupan (iman, sosial, ekonomi).

Digerakkan oleh semua kebutuhan yang mendesak ini, beliau membuat rencana untuk memberikan pertolongan. Lewat perjuangannya bersama dengan beberapa perempuan yang juga mempunyai kepedulian yang sama terhadap mereka yang miskin dan menderita, akhirnya Pastor J. A Heeren Pr diperkenankan untuk secara resmi mendirikan kongregasi. Ia  memberikan nama : “Suster-Suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef”. Bunda Maria dan St. Yosef  sebagai Pelindung Utama dan yang menjadi teladan dalam mengabdi Allah dan sesama. St. Yohanes Rasul menjadi teladan bagaimana selalu mengarahkan hati, cinta dan kasihnya hanya kepada Yesus, dan semangat St. Vincentius menjadi semangat dalam berkarya melayani orang miskin dengan sederhana, rendah hati, tanpa pamrih dan tanpa memandang agama dan perbedaan lainnya.

Untuk  melayani sesama yang miskin, Suster PMY berusaha untuk hidup dan berkarya sesuai dengan Spiritualitas yang ditekankan oleh Pastor Heeren yaitu “Kesederhanaan dan Kesatuan”. Adapun motto kongregasi : “In Omnibus Caritas’ yang bermakna  “Cinta kasih di dalam segala-galanya”. .*-Antonius