Komunitas Vinsesius – Yogyakarta

 

Tuhan menyelenggarakan segala sesuatu sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya. Itulah kata-kata yang tepat untuk hadirnya Komunitas Suster PMY di daerah Yogyakarta. Pada akhir tahun 1972, Lembaga Dena-Upakara mengutus Sr. Maria Susilo Juwati PMY untuk perluasan SLB/B Dena-Upakara dengan membuka cabang Sekolah/Asrama Kejuruan Dena-Upakara. Yogyakarta menjadi pilihan, dan akhirnya mendapat tempat di Bintaran Kulon No. 6 Yogyakarta. Rumah tersebut berfungsi ganda yaitu untuk Sekolah, Asrama dan komunitas para suster yang selain menjadi guru tetapi  juga mengikuti kursus-kursus yang mendukung pelayanan bagi anak-anak tuna rungu, studi lanjut di Universitas Sanata Dharma dan STKat Pradna Widya Yogayakarta.

Dari tahun ke tahun, nampaknya Sekolah Kejuruan SLB/B Dena-Upakara ada kemajuan. Dari tujuh anak pada awalnya, berkembang setiap tahunnya. Demikian juga, keanggotaan komunitas suster pun silih berganti. Ada yang sudah selesai studi lagsung kembali ke rumah induk Wonosobo, ada yang tetap melanjutkan pelayanannya di Yogyakarta. Sampai pada awal Juni 1981, ada tiga Suster dan 12 siswa putri. Namun karena 2 Suster sudah selesai dengan studinya, maka tinggal satu Suster  yang menjadi Guru sekaligus menjadi Ibu Asrama. Sementara itu di Wonosobo tidak ada lagi tenaga Suster yang bisa dipindah ke Yogya. Maka setelah segala sesuatunya diurus dan selesai, terutama yang berkaitan dengan ijazah Siswa, diambil keputusan Suster yang masih tinggal di Yogyakarta juga kembali ke Wonosobo. Pada tanggal 23 Juni 1981, komunitas Yogyakarta yang ada di Bintaran ditutup, dengan demikian berakhirlah komunitas Suster PMY di Yogyakarta.

Meski pun komunitas Bintaran telah ditutup, ternyata Tuhan menghendaki Kongregasi Suster PMY berada di Yogyakarta. Meskipun masih sangat samar, namun saat ada tawaran dari Yayasan Helen Keller Belanda kepada Kongregasi, untuk membuka SLB/G-AB yaitu pendidikan untuk anak-anak cacat ganda tunarungu-netra, Kongregasi mencoba menanggapinya. Tawaran itu dirasa sebagai tanda dari Tuhan  sendiri, bahwa Kongregasi diminta untuk juga memperhatikan anak-anak yang mengalami cacat ganda tunarungu-netra. Dan sungguh di luar dugaan bahwa pada tahun 1995 secara berturut-turut di SLB/B Dena-Upakara ada anak yang berkebutuhan khusus tuli sekaligus mengalami kebutaan. Pada awalnya para pendidik tidak menyadari bahwa ada perbedaan besar dalam pendidikan atau pengajaran untuk anak-anak tuli dengan anak-anak tuli yang sekaligus buta.

Melalui refleksi panjang, Kongregasi menyadari bahwa Tuhan menghantar para Suster juga memberikan pelayanan khusus kepada anak-anak cacat ganda buta tuli. Oleh karena itu Tarekat sepakat menerima tawaran dari Yayasan Helen Keller Belanda untuk membuka Sekolah SLB/G – AB Helen Keller Indonesia. Untuk pertama kalinya, sekolah tersebut beralamat di Jl. Bismo No. 21A Wonosobo. Namun karena ada tanda-tanda berkembang dengan bertambahnya jumlah siswa, maka setelah konsultasi dan minta izin Bapak UskupAgung Semarang, Mgr. I. Suharyo, Pr, dicarilah tempat yang cocok untuk sekolah sekaligus asrama bagi anak-anak buta tuli.  Pilihan jatuh ke daerah Murangan, paroki Medari Yogyakarta. Sekolah, Asrama dan komunitas yang ada di Jl. Garuda Gg. Teratai No. 3 Murangan adalah milik kel. Bp. Handoko. Namun karena kurang memadai, maka setelah tiga bulan, pindah ke rumah milik Bp. A.Y. Suwarjito di Jl. Magelang Km. 12 Wadas, Tridadi,  Sleman, Yogyakarta.

Ternyata keberadaan Sekolah/Asrama sekaligus komunitas Suster  di Sleman pun tidak terlalu lama, karena pada 14 Agustus 2001 Sekolah, Asrama dan Komunitas pindah ke Wirobrajan, tepatnya di Jl. RE Martadinata 88A Yogyakarta. Di Wirobrajan inilah, Sekolah, Asrama dan Susteran menempati secara permanen. Secara geografis parokial, termasuk paroki Kumetiran. Ada pun kegiatan para Suster yang tinggal di komunitas ini, selain menjadi Guru juga tugas studi, kadang mendampingi Alumni Dena-Upakara & Don Bosco, juga kegiatan antar religius di Kevikepan Yogyakarta. Di samping  acara rutin, para Suster masih  ikut terlibat di dalam kegiatan paroki misalnya pendampingan Putra-Putri Altar, Katekese, kegiatan lingkungan, kegiatan-kegiatan pastoral yang lain dan kegiatan kemasyarakatan misalnya rapat Rt/Rw, tirakatan kampung dan lain sebagainya. Di antara para suster yang berkarya full-time, ada juga para Suster yang sedang menjalani studi lanjut sambil berkarya

Oleh karena semakin banyak anak yang membutuhkan pendidikan di Helen Keller Indonesia sementara rumah sudah tidak mencukupi, untuk memenuhi kebutuhan yang standar baik untuk Sekolah, Asrama maupun Komunitas Suster (selama ini gabung satu atap), maka awal tahun 2007 di tempat yang sama dibangun Sekolah, Asrama dan Komunitas Suster. Peletakan batu pertama atas pembangunan gedung dipimpin oleh Romo J. Yuliwan M, SCY pada tanggal 18 Januari 2007. Hadir Sr. Antonie Ardatin PMY selaku Provinsial beserta para Suster, umat lingkungan dan warga masyarakat sekitarnya. Peresmian dan pemberkatan gedung Sekolah, Asrama dan Komunitas pada tanggal……oleh Mgr. Suharyo, dan dihadiri oleh Suster Pimpinan Umum, Sr. Rosa Wigink dan Dewan Umum Sr. Anna Nistelroij, dan Sr. Antonie sebagai Provinsial, juga para suster dari berbagai komunitas, anak-anak dan guru SLB/B Dena-Upakara dan umat, sahabat dan kenalan ikut mendukung keberadaan SLB/G-AB HKI.

Meskipun bangunan itu tetap dalam  satu kompleks, namun sudah ada pemisahan. Hal itu dimaksudkan supaya semua bisa berfungsi sebagaimana seharusnya. Para Suster  bisa melayani secara maksimal baik di Sekolah maupun di Asrama, sekaligus bisa menggunakan waktu di luar kerja resmi sebagai Guru atau di Asrama untuk kegiatan kerohanian secara pribadi dan komuniter. Dengan didirikan Sekolah, Asrama untuk anak-anak SLB/G-AB serta rumah untuk para Suster sebagai komunitas, maka Kongregasi  semakin mantap berkarya di wilayah Yogyakarta. Penyelenggaran Allah selalu tepat pada waktunya, ketika Kongregasi  sudah siap untuk berkarya dengan segala persyaratannya Dia memberikan jalan yang terindah.


Komunitas Vinsensius – Yogyakarta