Komunitas Theresia – Timor Leste

 

Sesuai dengan hasil Kapitel Provinsi – Maret 2009, Provinsi Indonesia harus mengusahakan tambahan panggilan secara significant. Hal itu berkaitan dengan semakin habisnya anggota kongregasi yang ada di Belanda, sementara itu di Indonesia juga mengalami kesulitan untuk mencari tambahan anggota. Walaupun sudah dilakukan berbagai usaha untuk promosi panggilan, toch hasilnya tidak seperti diharapkan. Memang Tuhan masih berkenan mengirim para calon, tetapi tidak bisa menutup kekuarangan yang semakin berkurang.

Usaha-usaha untuk promosi panggilan telah dilaksanakan misalnya, dengan mengadakan rekoleksi panggilan di paroki-paroki, di sekolah-sekolah, dalam pertemuan-pertemuan kategorial, live-in di beberapa paroki, pembuatan brosur dan sekat buku. Namun usaha tersebut belum menampakkan hasilnya. Tim GSP telah berjuang semaksimal mungkin, di samping bertugas yang pokok masih harus pontang-panting mencari peluang untuk berusaha mencari panenan. Secara intern kongregasional, telah diuapayakan berbagai usaha, refleksi bersama dan mencari bersama, maka dihasilkan suatu tekad bersama untuk “keluar” dari zona aman di Jawa Tengah. Berbagai pilihan ditawarkan, misalnya di Jawa Timur, di Lampung, Sumatera, di Kalimantan dan di Timor Leste. Pasang surut keinginan untuk mengembangkan sayap, namun akhirnya dengan penuh pertimbangan dan penuh keyakinan, maka disepakati seluruh anggota kongregasi, dipilihlah Timor Leste  sebagai pilihan pengembangan komunitas dengan tujuan untuk mencari calon penerus kongregasi Suster PMY. Untuk bisa masuk ke daerah lain, maka kami masuk lewat pintu karya pelayanan untuk anak-anak berkebutuhan khusus tunarungu-netra.

Maksud tersebut didukung oleh Pastor Djuki SVD, seorang Imam SVD yang berdomisili di Dili Timor Leste, yang sangat peduli dengan para penyandang kebutuhan khusus tunarungu, termasuk para Alumni ADECO. Namun Tuhan berkehendak lain, karena belum cukup waktu untuk berdiskusi tentang rencana membuka karya di Timor Leste, Pastor Djuki SVD dipanggil Tuhan untuk menghadap-Nya. Oleh karena kehilangan orang yang kiranya bisa menjadi penghubung ke Timor Leste, maka untuk sementara waktu dibiarkan berjalan seperti sebelum ada rencana keluar dari Pulau Jawa, mungkin Tuhan belum mengizinkan kongregasi melebarkan sayapnya ke daerah lain, apalagi luar negeri. Bersamaan dengan berjalannya waktu, apa yang pernah diimpikan muncul kembali. Saat Sr. Antonie bertemu dengan anggota Frater CMM, segala pembicaraan berkaitan dengan rencana kongregasi membuka karya di Timor Leste. Atas bantuan dan kebaikan hati Fr. Silvino Belo CMM, Regional Frater CMM Regio Timor Leste, akhirnya rencana membuka karya baru di Timor Leste bisa dimulai. Langkah awal yang ditempuh adalah mengirim Buku Sejarah Kongregasi, brosur Kongregasi, brosur SLB/B Dena-Upakara, brosur SLB/G-AB Helen Keller Indonesia ke Bapak Uskup Dili, Maliana dan Baucau.

Untuk menindaklanjuti apa yang sudah dikerjakan, maka mulai dengan  kunjungan. Kunjungan demi kunjungan dilakukan, kunjungan pertama bulan November 2012 oleh Sr. Patricia dan Sr. Wahyu, kunjungan ke-dua oleh Sr. Antonie dan Sr. Wahyu pada bulan Maret 2013, kunjungan ke-tiga pada bulan Juni 2013 oleh Sr. Patricia dan Sr. Anastasia dan kunjungan ke-empat oleh Sr. Marga dan Sr. Patricia. Hasil dari kunjungan dan observasi adalah pintu terbuka bagi kehadiran kongregasi Suster Putri Maria dan Yosef di Negara Republik Timor Leste. Gereja dan Pemerintah memperbolehkan dan merestui kehadiran Kongregasi PMY. Proses yang cukup cepat, karena belum ada setahun dalam proses telah diperkenankan untuk memualai karya di tanah Timor Leste. Kemungkinan besar hal itu disebabkan oleh karena di Timor Leste belum ada Sekolah Khusus untuk Anak-Anak Berkebutuhan Khusus dengan segala kebutuhannya.

Dukungan Gereja, lewat Bapak Uskup Baucau Mgr. Basilio yang mengarahkan dan  menunjukkan salah satu daerah sebagai tempat karya dan komunitas, lewat Pastor Justiniano SDB, Pastor Paroki Katedral St. Antonius dan Umat, maka bisa mendapatkan tempat di Buruma. Dan berkat kegigihan Fr. Silvino Belo CMM, akhirnya bisa mendapatkan tempat tinggal yang akan digunakan untuk sekolah, asrama dan komunitas orientasi. Rupanya, kehadiran kongregasi dengan karya yang khas inilah maka sambutan Gereja dan pemerintah sungguh luar biasa, harapan yang meluap-luap atas kongregasi yang bisa “melepaskan belenggu” anak-anak berkebutuhan khusus, yang selama ini dianggap sebagai anak-anak yang tidak berpengharapan. Dari satu sisi, hal itu menjadi suatu kebanggaan bahwa karya kongregasi sangat diharapkan, tetapi di sisi lain sangat berat tanggungjawab yang harus dipikul, terutama oleh para Suster yang mendapat tugas perutusan untuk menjadi Misionaris di tanah Timor Leste.

Berangkat dari kepercayaan kepada Penyelenggaraan Ilahi dan dari bantuan nyata dari saudara-saudara yang sungguh luar biasa, terutama dari Fr. Silvino Belo CMM dan Komunitas Frater CMM Dili, di samping dukungan mutlak dari para Suster, maka terjadilah apa yang menjadi impian dan harapan kongregasi untuk mengembangkan karya dan komunitas di luar Pulau Jawa. Hal itu didukung oleh Keputusan Kapitel Umum – Mei 2013 yang memutuskan untuk membuka karya dan komunitas di Timor Leste dengan Keputusan sbb : “ Kapitel Umum berharap agar eksperimen yang sudah diawali di Timor Leste akan membuahkan hasil dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus, menyuburkan panggilan dan internasionalisasi dalam Kongregasi” (Kep. F.2).  Berdasarkan keputusan Dewan Pimpinan Regio Indonesia, Sr. Maria Margareta Sri Marganingsih PMY, Sr. Anastasia Ervin Sri Agustin PMY dan Sr. Yosefa Pungky Rahayu PMY yang menjadi Misionaris ke Timor Leste.Tepat pada tanggal 24 September 2013, para Suster Misionaris diantar oleh Sr. Antonie sebagai Pimpinan Umum, Sr. Patricia sebagai Pimpinan Regio Indonesia, berangkat ke Timor Leste. Komunitas St. Theresia Buruma diberkati oleh Pastor Justiniano SDB dan disaksikan oleh saudara/i sepanggilan para religius baik dari Baucau maupun dari Dili, teman-teman KEVIN Timor Leste, umat, dan Pemda. Peresmian dilaksanakan bertepatan dengan peringatan St. Theresia Liciux – Pelindung Misi – 1 Oktober 2013. Semoga yang telah diawali dengan baik, akan berkembang dan berbuah lebat bagi kelangsungan hidup dan karya kongregasi PMY.


Komunitas Theresia – Timor Leste