Berbahagialah Orang yang Suci Hatinya Karena mereka akan Melihat Allah

oleh -696 Dilihat
Yesus Kristus

Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah (Mat 5:8)

             Keutamaan kesederhanaan atau simplicitas adalah satu dari lima keutamaan yang diwariskan oleh St. Vincentius a Paulo untuk para pengikutnya. Kelima keutamaan itu adalah kesederhanaan, kerendahan hati, kelemahlembutan, mati raga, dan penyelamatan jiwa-jiwa. Sebagai seorang Vincentian, bagaimana saya memaknai kesederhanaan, jika keutamaan ini saya masukkan dalam kerangka pesan bahagia Tuhan Yesus (the beatitudes), “berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah (Mat 5:8)?”

Berbahagialah Orang yang Suci Hatinya

              Merujuk ke kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘suci’ memiliki dua arti dasar yaitu murni, tidak terpengaruh. Hal ini menunjuk pada suatu kualitas, bahwa ‘sesuatu’ tidak tercampur dengan unsur lain. Dalam konteks the beatitudes, kata ‘suci hati’ berarti kondisi hati yang bermotivasi murni, lurus dan tanpa pamrih dalam bertindak di segala bidang kehidupan, terutama dalam pengabdian kepada Allah. Orang yang suci hatinya hanya berbuat sesuatu atau hal yang menyenangkan Allah dan dia selalu menyelaraskan kepentingannya dengan kehendak-Nya.

              Dari mazmur 24 : 3-5 dapat dilihat bagaimana pemazmur melukiskan tentang siapakah orang yang suci hatinya, “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri ditempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.”

Paus Fransiskus, dalam Seruan Apostolik Gaudete et Exultate menuliskan, bahwa orang yang suci hatinya adalah “….. mereka yang memiliki hati sederhana, murni dan bersih, tanpa noda, tentang hati yang sanggup mengasihi, tanpa membiarkan apapun dalam hidupnya yang bisa mengancam, melemahkan ataupun membahayakan kasih tersebut.”¹ Lebih lanjut Paus Fransiskus menjelaskan, ” Ketika hati mengasihi Allah dan sesama (lih Mat 22:36-40), ketika ini adalah niatnya yang tulus dan bukan kata-kata hampa, maka itulah hati yang suci dan dapat melihat Allah. Dalam kidung kasihnya, Santo Paulus mengatakan bahwa ” Sekarang kita melihat dalam cermin, suatu gambaran yang samar-samar” ( 1 Kor 13:12), namun sejauh kebenaran dan kasih benar-benar menguasai, kita akan sanggup melihat “dari muka ke muka”. Yesus menjanjikan bahwa mereka yang suci hatinya “akan melihat Allah”,”²

Keutamaan Kesederhanaan St. Vincentius

Untuk St. Vincentius, kesederhanaan pertama-tama, adalah mengatakan yang sebenarnya (CR II, 4; XII, 172), sebagaimana adanya (SV I, 144), tanpa maksud atau agenda yang tersembunyi (sv I, 284; V, 464).³ Dalam suratnya kepada François du Coudray pada tanggal 6 November 1634, St. Vincentius menuliskan:

Saya maklum atas kebaikan hati Romo yang telah memberikan kepadaku kebebasan untuk berbicara kepada Romo dengan kepercayaan penuh, tanpa menyembunyikan atau menutup sesuatu pun. Dan saya rasa sikap saya yang biasa terhadap Romo sampai sekarang cukup meyakinkan Romo tentang ini. Oh, Tuhan! Apakah saya sudah sedemikian celaka sampai saya mulai bertindak atau mengatakan sesuatu tentang Romo yang bertentangan dengan kesederhaaan yang suci. Ya Tuhanku, Romo, jangan sampai ini terjadi mengenai siapapun. Inilah keutamaan yang paling saya cintai dan saya tekuni dalam tingkah laku saya, menurut hemat saya. Dan, kalau saya diizinkan berbicara, say berani mengakui bahwa berkat kerahiman Tuhan, saya mengalami sedikit kemajuan dalam hal ini.

               St. Vincentius mengajari para penikutnya, “Hati tidak boleh memikirkan satu hal, sementara mulut mengatakan hal lain” (SV IX, 81; IX, 605, XII, 172). Pun, dia mengharapkan dari pengikut-pengikutnya agar mereka berusaha keras untuk bersikap ontetik, tidak berpura-pura, berliku-liku, penuh tipu muslihat, dan terlebih lagi berbicara memakai kata-kata yang memiliki dua arti atau duplikasi (SV II, 340; IX, 81).

“Tuhan kita Yesus Kristus minta dari kita kesederhanaan merpati, yang berarti mengatakan segalanya secara sederhana, seperti yang dipikirkan, tanpa pertimbangan-pertimbangan yang tak berguna. Dan bertindak terus terang, tanpa usaha untuk menyamar; tanpa tipu muslihat, dengan hanya memandang Allah saja; untuk itu masing-masing akan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan segala tindakanya dengan semangat kesederhanaan yang sama ini, dengan mengingat bahwa Allah berkenan membuka diri pada orang-orang sederhana dan mengungkapkan kepada mereka rahasia-rahasia-Nya, yang dia sembunyikan bagi orang-orang terpelajar dan orang-orang bijak dari dunia.”

Menurut St. Vincentius, ketidakotentikan atau kepura-puraan akan menjadi hambatan dalam melakukan pelayanan kepada orang-orang miskin (dalam artian luas, bukan hanya miskin secara materi) atau mewartakan kabar sukacita injili. Jika orang-orang miskin merasakan ketidakontetikan dalam diri kita, maka mereka berpikir bahwa kita tidak dapat dipercaya; dan pesan atau layanan kita kepada mereka akan kosong. Di sisi lain, jika kita memiliki keberanian dan kerendahan hati untuk menjadi otentik, untuk berbicara kebenaran dalam kasih, dan melakukan segala sesuatu dengan keaslian sebagai panduan; maka kita akan lebih efektif dalam mewartakan injil dan dalam membantu orang-orang miskin. Dalam ilmu psikologi, semakin otentik diri kita, semakin kita bahagia.

           Simplicitas juga berarti sederhana dalam kepemilikan barang (perabotan di dalam rumah) atau buku-buku di dalam kamar (SV XII, 175; Konstitusi Kongregasi PMY no. 78). Cerita kecil, sepulang studi dari Belanda (2019), koleksi buku saya menjadi berlipat ganda, sehingga memusingkan saat mengirimkannya kembali ke Indonesia. Saya tahu bahwa memiliki banyak buku ternyata merepotkan. Toch demikian, saya masih enggan untuk melepas buku-buku saya ini menjadi koleksi perpustakaan kongregasi. Sehingga selalu ada pertanyaan di benak saya, “Apakah saya bisa melepaskan kemelekatan ini dan menjalani hidup yang sederhana?” “Apa maksud memiliki buku-buku yang banyak di kamar? Untuk belajar atau show off?”

Sikap seperti inilah yang tidak diinginkan oleh St. Vincentius. St. Vincentius tahu bahwa kepemilikan yang berlebihan membawa kemelekatan, dan kemelekatan menghalangi kita untuk hidup dalam kebebasan penuh bagi Tuhan. St. Vincentius ingin kita meniru Kristus dalam segala hal. Dia yang lahir di kandang dan “tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya” (Luk 9:58).

Kesederhanaan menurut St. Vincentius berarti juga bahwa dalam melakukan segala sesuatu seharusnya digerakkan oleh semangat Allah yang adalah kasih (1 Yoh 4, 8), bukan karena motivasi-motivasi lain. St. Vincentius tidak menginginkan bahwa kita melakukan sesuatu, misalnya untuk menyenangkan hati pimpinan (ABS) atau mencari penilaian baik dari sesama (SV II, 340). Terlalu sering motivasi-motivasi yang kita miliki tidak murni, dan dan kita bertindak sesuai dengan keinginan kita sendiri, bukan berdasarkan kehendak Tuhan. Kehendak dan ego semacam ini akan menjadi penghalang dalam mengarahkan budi dan hati kita kepada Tuhan, dan mencegah Dia bekerja di dalam diri kita. Karena itu, adalah sangat penting bagi para Vincentian melakukan diskresi secara terus menerus untuk menggali dan mengenali dan mengenali motivasi-motivasi dalam bertindak.

Menjadi Sederhana, Bahagia dan Suci Hati

Menjadi sederhana, bahagia dan memiliki hati yang suci tidak bisa diusahakan hanya sepihak. St. Vincentius mengajari kita untuk, pertama, berdoa memohon rahmat itu kepada Allah. Seperti yang diungkapkan oleh Pemazmur, “Jadikanlah hatiku tahir ya Allah dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh.” (Mz 51:12).

Kedua, mengucap syukur senantiasa. Dalam salah satu refleksi live in seorang novis II, dia menuliskan, “…… yang saya kagumi dari umat Katolik di ds. Wates-Temanggung, meskipun mereka hidup dalam situasi ekonomi yang pas-pasan dan situasi pandemi semacam ini, namin mereka tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan dan kehidupannya. Rasa syukur dan ‘cukuplah untuk hari ini’ meyakinkan mereka bahwa Tuhan akan memelihara mereka, tanpa kuatir akan apa yang mereka makan….” Bagi saya, refleksi ini menampakkan bahwa bukan kegembiraan yang membuat masyarakat di ds. Wates bersyukur, namun rasa syukur yang membuat mereka bahagia. Pertanyaannya, dalam masa pandemi yang sudah berlangsung, selama satu setengah tahun ini, apakah kita masih mampu bersyukur dan merasa bahagia? Bagaimanakah menjaga api semangat diri dan sesama agar tetap menyala?

Ketiga, bergaul dengan orang-orang sederhana adalah cara atau jalan menuju pada kesederhanaan, kebahagiaan dan kesucian hati. Dalam konferensi tertanggal 14 Maret 1659, St. Vincentius mengatakan, “…… kesenangan Allah ialah bergaul dengan orang-orang sederhana, dengan orang-orang sederhana dalam hati, yang bersikap terus terang dan secara sederhana. Apakah kalian mau menjumpai Allah? Dia berbicara dengan orang-orang sederhana.”

Keempat, St. Vincentius memberikan pesan untuk senantiasa mawas diri. Dihadapan Allah yang penuh belas-kasih, tanpa takut kita berani datang kepada Allah sambil memohon doa orang berdosa yang dibenarkan Allah lebih daripada orang Farisi yang merasa dirinya saleh: “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini” (Luk 18:13). Tradisi spiritualitas Kristiani mengajar kita untuk mengulang-ulang doa tersebut dalam keheningan untuk memurnikan hati dan hidup kita dari segala kepalsuan terutama kepalsuan mekanisme bela diri kita, yang tidak mengakui bahwa kita orang berdosa. Pun doa ini membantu memurnikan motivasi-motivasi tindakan/perbuatan kita.

Kelima, menjadi seperti anak kecil (lih. Mat 18:3). Anak-anak kecil umumnya polos, bergembira dalam segala hal yang receh sekalipun. Pun, mereka masih dan tergantung pada orang dewasa yang ada di dekat mereka. Pertanyaannya, apakah kita bisa menggantungkan hidup kita melulu kepada kehendak Allah?

 

 

Sr. Emilia Fransiska Dian Widhowati PMY

Magistra dan anggota tim spiritualitas kongregasi PMY

 


  1. Gaudete et Exultate,art. 83.
  2. ibid.art.86.
  3. Robert P. Maloney, C.M., He Hears the Cry of the Poor: On the Spirituality of Vincent de Paul (New York, New City Press, 1995),144.
  4. St. Vincentius de Paul, Konferensi tanggal 14 Maret 1659, Kesederhanaan dan kebijaksanaan.
  5. Erica R. Bailey, Sandra C. Matz, Wu youyou and Sheena S. Iyengar, “Authentic self-expression on sosial media is associated with greater subjective well-being”, Nature Communications,
https://www.nature.com/articles/s41467-020-18539-w (diakses tanggal 10 Juli 2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven + six =

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

No More Posts Available.

No more pages to load.