NULAND — Kelompok kecil suster DMJ/PMY di Belanda mengenang kembali jasa para suster pendahulu melalui kegiatan ziarah, doa bersama, dan perayaan Ekaristi di kompleks makam kongregasi St. Jozefoord pada Senin (6/7). Rangkaian acara yang mengusung semangat In Omnibus Caritas ini dimulai sejak pukul 15.00 waktu setempat, diawali dengan ramah tamah hangat di ruang Rosa de Lima, dilanjutkan ziarah ke makam pendahulu yang dipimpin oleh Pastor Viola, serta ditutup dengan ibadat sore bersama kelompok paduan suara Marcantus dari Culemborg.


Kegiatan tahunan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momen refleksi mendalam bagi para suster untuk merawat ingatan atas pengorbanan pendiri dan para perintis kongregasi. Dalam suasana sore yang cerah, para suster berjalan bersama menuju makam untuk memanjatkan doa, menghadirkan kembali rasa kebersamaan bahwa kongregasi tidak pernah berjalan sendirian dalam karya pelayanan mereka.

Puncak sukacita rohani kemudian berlanjut di kapel St. Jozefoord, tempat di mana madah pujian dan mazmur dilantunkan dengan sepenuh hati bersama kelompok koor asuhan Pastor Peter. Lantunan melodi yang indah membawa keteduhan batin bagi setiap yang hadir, mengingatkan kembali pada teladan St. Yosef yang senantiasa hadir, setia, serta taat dalam kesunyian dan ketaatan iman.
Selepas ibadat, kebersamaan kian terasa akrab tatkala para suster kembali berkumpul di ruang Rosa de Lima untuk menikmati makan malam bersama yang dibagi dalam tiga kelompok meja. Di meja-meja tersebut, ruang percakapan terbuka lebar untuk saling berbagi cerita, pengalaman panggilan, serta meneguhkan ikatan persaudaraan yang tulus di antara para suster.

Melalui peristiwa iman ini, saya secara khusus, diajak menundukkan kepala sejenak mengenang keteguhan para suster pendahulu yang rela meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, dan kenyamanan demi menyeberang samudera ke Indonesia. Perjalanan panjang berbulan-bulan di atas kapal, perjuangan beradaptasi dengan bahasa, budaya, serta lidah yang harus bersahabat dengan makanan asing, menjadi bukti nyata dari cinta tanpa syarat yang diwariskan bagi karya Kongregasi PMY hari ini.
Kini, warisan ketulusan tersebut bersemi kembali dalam sanubari setiap suster yang hadir, menghadirkan kehangatan batin yang menyentuh relung-relung kemanusiaan paling dalam. Di tengah dinamika zaman, ziarah ini meneguhkan kembali makna pelayanan sebagai sebuah panggilan untuk terus berjalan dalam kasih, merawat ingatan, dan mendedikasikan hidup bagi sesama dengan kerendahan hati.

Sr. Yuliana Sri Wiyanti PMY, misionaris di Belanda.










