WONOSOBO – Di antara kabut pagi yang menyelimuti lereng Gunung Sindoro dan Sumbing, sebuah kisah kasih mulai dituliskan. Pada 15 Maret 1938, kota dingin Wonosobo menjadi saksi ketika enam suster misionaris dari Kongregasi Suster Putri Cinta Kasih Maria dan Yosef (PMY) menjejakkan kaki. Mereka datang dari kota ‘s-Hertogenbosch di Belanda, membawa perutusan suci: menjadi “telinga” bagi mereka yang tak mendengar dan “suara” bagi mereka yang terbungkam.

Filosofi di Balik Nama: Sebuah Anugerah Jawa Kuno
Nama “Dena Upakara” bukanlah sekadar identitas, melainkan sebuah doa dan visi. Dianugerahkan oleh Pastor Petrus Josephus Zoetmulder, SJ—seorang pakar bahasa Jawa Kuno—nama ini berarti “Merawat yang Dina”.

Dalam keheningan dunia anak-anak tuli, terdapat “kemiskinan” komunikasi yang mendalam. Tanpa konsep bahasa yang masuk melalui pendengaran, mereka terasing dari dunia. Dena Upakara hadir untuk meruntuhkan sekat tersebut, mengasah kemampuan verbal maupun non-verbal agar mereka mampu menyapa dunia dengan penuh percaya diri.
Perjalanan Melintasi Zaman
Sejarah mencatat dinamika pengabdian ini. Hingga tahun 1955, Dena Upakara merangkul putra dan putri dalam satu atap. Namun, seiring bertambahnya tunas-tunas muda yang ingin bertumbuh, estafet pendidikan siswa laki-laki pun diserahkan kepada Bruder Karitas melalui SLB B Don Bosco. Sejak saat itu, Dena Upakara mendedikasikan diri sepenuhnya sebagai rumah persemaian bagi kemandirian putri-putri tuli.
Dena Upakara Hari Ini: Teguh dalam Penyelenggaraan Ilahi
Hampir sembilan dekade telah berlalu. Meski gelombang perubahan zaman kian kencang, Dena Upakara tetap berdiri kokoh. Kami percaya, Allah senantiasa menyelenggarakan segala sesuatu menjadi baik adanya.
Kami bukan sekadar sekolah, melainkan sebuah Komunitas Kasih. Komitmen kami tetap tak tergoyahkan:
- Akademik yang Inklusif: Menggunakan kurikulum nasional yang dipadukan dengan kurikulum khas untuk mempersiapkan siswi memasuki pendidikan inklusi di tingkat SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi umum.
- Kemandirian Berkarakter: Menanamkan integritas dan kepribadian yang tangguh agar mereka mampu berinteraksi tanpa rasa rendah diri.
- Keterampilan Hidup: Membekali siswi dengan keahlian komputer, tata boga, tata busana, tata rias, merajut, hingga membatik sejak usia dini.
Menyongsong Masa Depan dengan Sukacita
Visi kami adalah mewujudkan generasi yang berprestasi, kreatif, mandiri, inklusif, dan berintegritas. Di Dena Upakara, setiap keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan undangan untuk melihat kemahakuasaan Tuhan melalui cara yang berbeda.
Kami percaya, dengan bekal kasih dan keterampilan yang memadai, setiap anak didik kami akan mampu melangkah keluar dari gerbang Mangli No. 5 dengan kepala tegak, menyongsong masa depan yang penuh harapan dan sukacita.
“Karena dalam setiap keheningan, selalu ada lagu kasih yang menunggu untuk disuarakan.”
Sr. Patricia Casiana Lestari, PMY






