Komunitas Heeren – Wonosobo

 

Rupanya pengalaman dan kemampuan para Suster dalam mendidik anak-anak tuli di Sint. Michielsgestel Belanda, menarik perhatian Mgr. Hermus Direktur Lembaga Pendidikan Anak Tuli Sint. Michielsgestel. Maka tidak lama sesudah menerima permintaan Mgr. Visser MSC, Vikaris Apostolik Keuskupan Purwokerto yang menghendaki supaya ada Kongregasi yang membuka Sekolah untuk anak-anak tuli di wilayah keuskupannya, Mgr. Hermus segera menghubungi Pimpinan Umum Suster PMY. Dan itu merupakan langkah awal Suster-Suster PMY mengembangkan misi dengan menanggapi secara serius permintaan Mgr. Hermus dan Mgr. Visser MSC. Ternyata kehendak Allah terjadi melalui kedua Monsignur tersebut. Permintaan untuk membuka Sekolah Anak Tuli di Indonesia disetujui oleh Pimpinan Umum yaitu Moeder Venantia dan didukung oleh para Suster yang lain.

Pada hari Minggu sore, 16 Januari 1938, Pk. 15.30, 5 (lima) Suster yaitu Sr. Maria Alacoque, Sr. Bonaventura, Sr. Canisia, Sr. Agustina dan Sr. Geertruida menerima tugas perutusan dari Suster Pimpinan Umum yaitu Sr. Venantia van Maanem. Dengan berbekal iman dan semangat yang besar untuk melaksanakn tugas perutusan, berangkatlah kelima Suster menuju ke Indonesia. Setelah melalui perjalanan panjang, sampailah mereka di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Indonesia, pada tanggal 13 Februari 1938. Dari Jakarta mereka ke  Bandung dan tinggal di biara Suster Ursulin sampai akhir Februari di mana mereka langsung menuju Wonosobo. Atas permintaan Mgr. Visser   kepada para Suster Putri Bunda Hati Kudus yang lebih dulu ada di Wonosobo,  mereka mempersiapkan rumah dengan perabotannya. Rumah yang disewa untuk para Suster PMY berada di jalan Pakuwojo milik Mr. de Groot. Kehadiran para Suster PMY disambut hangat oleh para Suster PBHK. Itulah awal mula kehadiran Suster PMY di Indonesia, khususnya di paroki St. Paulus Wonosobo yang termasuk wilayah keuskupan Purwokerto.

Sesuai dengan tujuan semula, sesudah mempersiapkan segala keperluan untuk pendidikan anak-anak tuli,  dibukalah secara resmi Sekolah Khusus Anak-anak Tuli pada tanggal 15 Maret 1938, dengan nama SLB/B DENA-UPAKARA, yang artinya  merawat yang dina atau miskin. Nama itu berasal dari Bahasa Jawa Kuno : da-ina upakara” pemberian Pastor P. J  Zoetmulder, SJ. Oleh karena karya itu sungguh dibutuhkan masyarakat, maka tempat yang kecil tidak lagi memenuhi syarat. Setelah menemukan tempat yang cocok dan luas, maka pada tanggal 4 Mei 1938 dimulailah penggalian, perataan tanah yang  semula adalah perbukitan di Jl. Mangli No. 5 Wonosobo. Tidak lama kemudian, tanggal 25 Juni 1938 dilaksanakan upacara peletakan batu pertama oleh Pastor Kockelkoren MSC dibantu oleh Pastor Belderok MSC. Moeder Maria Alacoque meletakkan batu kedua yang ditutup dengan PRASASTI  LEMBAGA. Pada tanggal 7 Februari 1939, dilaksanakan upacara pemberkatan gedung baru secara meriah oleh Mgr. Visser MSC, yang dihadiri oleh Pimpinan Umum Kongregasi Suster PMY yaitu Moeder Venantia didampingi Asistennya yaitu Sr. Dominica. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang maksimal, maka dibukalah Asrama untuk mereka yang bersekolah di SLB/B Dena-Upakara.

Ternyata awal yang sangat sederhana menjadi karya yang besar sehingga tenaga yang ada tidak lagi mencukupi. Oleh karena kebutuhan itu, Suster Pimpinan Umum mengutus Suster Misionaris baru angkatan kedua. Pada tahun 1950, berangkatlah Sr. Gaudetta, Sr. Henricia, Sr. Leonardo, disusul angkatan ketiga pada tahun 1955 yaitu Sr. Martinetta dan Sr. Myriam Therese. Angkatan demi angkatan datang ke Indonesia, mereka adalah Sr. Gertrudis (1965), Sr. Theodarda (1968), Sr. Felisitas dan Sr. Nel (1971). Kedatangan para Suster Misionaris ke Indonesia menambah semarak karya pelayanan bagi anak-anak tuli sehingga makin banyak anak-anak cacat yang mendapat pendidikan.

Karya pendidikan Anak Tuli sungguh disambut dengan baik oleh masyarakat, bukan hanya di Wonosobo melainkan juga di seluruh wilayah Indonesia. Setelah melalui perjalanan panjang, para Suster dihantar pada suatu keyakinan bahwa Allah sungguh menghendaki kehadiran Kongregasi Suster Putri Maria dan Yosef di bumi Indonesia untuk ikut serta mendidik anak-anak cacat secara khusus mereka yang tuli. Maka pelayanan untuk anak cacat (tuli), menjadi prioritas di samping pelayanan yang lain, dan hal ini menjadi tantangan bagi Kongregasi untuk setia pada warisan para pendahulu yaitu pelayanan yang khas ini.

Dari karya pelayanan kepada anak tuli berkembang ke pelayanan kesehatan. Pada tahun 1976 Pastor Paroki Wonosobo, mengusulkan kepada Pimpinan Suster di Indonesia supaya Suster PMY membuka balai pengobatan di pedesaan. Hal itu merupakan suatu usaha dari pihak paroki untuk memperhatikan kesehatan umat di stasi. Maka ketika ada tenaga Suster yang siap dalam bidang kesehatan, tawaran itu pun diterima. Dengan demikian mulailah karya pelayanan kesehatan di pedesaan, tepatnya di desa Wates, Tretep Kabupaten Temanggung yang waktu itu masih masuk paroki Wonosobo. Balai Pengobatan itu dibuka pada tahun 1977. Namun sayang, pada bulan Juni 1986, Balai Pengobatan ini ditutup karena ada isu kristenisasi, yang menyebabkan karya pelayanan itu tidak bisa berlangsung. Tetapi Tuhan tetap menghendaki supaya para Suster berkarya dalam bidang kesehatan, pada bulan 22 Maret 1978 dibukalah Balai Pengobatan di desa Grugu, Kaliwiro Kabupaten Wonosobo yaitu Balai Pengobatan “ADI DHARMA”, hingga saat ini Balai Pengobatan berkembang menjadi Poliklinik dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak.

Dari pelayanan pendidikan khusus dan kesehatan, rupanya Tuhan menghendaki pula supaya para Suster ikut terlibat dalam pendidikan umum. Di paroki Wonosobo telah didirikan Sekolah Menengah Pertama (15 Oktober 1955) yang bernaung di bawah Yayasan Bhakti Mulia milik Keuskupan Purwokerto, yang akhirnya diserahkan kepada paroki. Di sekolah itulah para Suster ikut terlibat dalam pengelolaannya, baik sebagai guru maupun sebagai Kepala Sekolah. Dalam hal ini, Kongregasi bekerjasama dengan Pastor paroki beserta Dewan dan umat. Rupanya Tuhan melalui Pastor Paroki yaitu Pastor Rozemeijer MSC menghendaki pula supaya para Suster  memberi perhatian kepada anak-anak stasi yang hendak melanjutkan pendidikannya di kota supaya di stasi ada kader yang sungguh beriman dan cerdas sehingga  ke depan bisa mengembangkan gereja stasi.  Maka pada tahun 1988 Sr. Yosephine PMY bersama Pastor Paroki dan Dewannya, membuka Asrama St. Paulus. Tugas para Suster mendampingi anak-anak dalam belajar dan pembinaan iman serta kepribadian. Asrama ini hingga sekarang masih dimanfaatkan oleh orangtua yang berasal dari stasi-stasi dan ada sebagian yang berasal dari luar kota Wonosobo.

Pada tahun 1996, Kongregasi menanggapi seruan Gereja untuk ikut memikirkan Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan, karena Kongregasi sendiri juga melihat bahwa di masyarakat telah terjadi situasi yang sangat memprihatinkan terutama di antara para petani. Petani yang terjerat oleh struktur sehingga tidak mampu untuk menentukan pilihan bagi dirinya sendiri, terbelenggu oleh budaya dan kemiskianan pengetahuan yang mengakibatkan rusaknya alam dan runtuhnya ekonomi rakyat di pedesaan. Maka dalam Kapitel 1997 Kongregasi memutuskan untuk mendampingi petani, membuka karya baru yaitu Pemberdayaan Masyarakat kecil dan miskin. Dari benih yang kecil bertumbuhlah pohon yang berbuah lebat, demikianlah dapat diumpamakan perkembangan karya pemberdayaan masyarakat. Berangkat dari Wonosobo yaitu kelompok kecil petani dam ibu-ibu menjadi kelompok besar bahkan sampai ke daerah Klaten dan Purworejo. Karya ini melintasi sekat-sekat agama, ras, golongan dan wilayah sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas. Segera sesudah itu terbentuklah kelompok-kelompok di berbagai tempat dengan segala macam kegiatannya. Salah satu ‘hasil’ dari karya pemberdayaan ini adalah terbentuknya Credit Union Lestari yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi rakyat terutama para petani. CU ini memang dari dan untuk petani/pengusaha kecil dan masyarakat umum yang mempunyai komitmen sama.

Sebagai bentuk keterlibatan Kongregasi di dalam lingkup Gereja, maka di samping pelayanan-pelayanan yang sudah ada, Kongregasi juga mencoba memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan Gereja, misalnya katekese umat, pendampingan kelompok-kelompok kategorial dan pelayanan-pelayanan pastoral lainnya.


Komunitas Heeren – Wonosobo