Rahmat dan Tantangan dalam Formasi Berkelanjutan Suster PMY

oleh -209 Dilihat

WONOSOBO — Sekitar 25 suster dari Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef (PMY) hadir dalam pertemuan On Going Formation di Wonosobo pada tanggal 28 hingga 29 Maret 2026. Pertemuan ini diadakan guna mendalami spirit Ensiklik Fratelli Tutti karya Paus Fransiskus, sebagai langkah konkret dalam menghadapi tantangan keberagaman budaya serta sekat antargenerasi di dalam komunitas biara PMY. Dengan menghadirkan Romo Galih Arga Ariyanta, Pr sebagai narasumber utama, kegiatan ini memfokuskan diri pada pembentukan budaya dialog dan komunikasi yang lebih manusiawi.

Dengan menghadirkan Romo Galih Arga Ariyanta, Pr sebagai narasumber utama, pertemuan OGF para suster PMY bulan Maret yang lalu memfokuskan diri pada pembentukan budaya dialog dan komunikasi yang lebih manusiawi.

Latar belakang penyelenggaraan kegiatan ini berakar dari kenyataan bahwa dinamika calon panggilan Suster PMY kini semakin majemuk. Para calon tidak lagi didominasi oleh satu wilayah saja, melainkan datang dari pelbagai penjuru Nusantara seperti Sumba, Kalimantan Barat, Timor Leste, bahkan menyusul dari Medan, Nias hingga Labuan Bajo. Kehadiran para calon dari luar Pulau Jawa ini disyukuri sebagai tanda bahwa benih panggilan Tuhan terus tumbuh subur, sekaligus membawa realitas keragaman cara hidup, kebiasaan berkomunikasi, dan pola pikir yang berpotensi memicu benturan budaya (culture shock).

Para calon suster PMY tidak lagi didominasi oleh satu wilayah saja, melainkan datang dari pelbagai penjuru Nusantara seperti Sumba, Kalimantan Barat, Timor Leste, bahkan menyusul dari Medan, Nias hingga Labuan Bajo.

Tidak hanya perkara sekat geografis, komunitas-komunitas Suster PMY saat ini juga diperhadapkan pada tantangan kesenjangan antargenerasi. Munculnya para suster dari Generasi Z—yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012—membawa corak baru dalam kehidupan bersama. Sebagai generasi yang tumbuh pesat di era kecerdasan digital, mereka dikenal kreatif dan terbuka, namun di sisi lain memiliki kerinduan mendalam akan relasi yang tulus. Ketegangan kerap muncul ketika cara pandang dan gaya komunikasi mereka yang serba cepat berbenturan dengan nilai-nilai kemapanan aturan yang dipegang oleh generasi suster yang lebih tua.

“Perjalanan menuju kedewasaan iman dalam hidup bersama membutuhkan ketekunan, keheningan, dan kesabaran dalam mengolah setiap pengalaman hidup. Kebijaksanaan sejati tidak lahir dari sekadar limpahan informasi yang instan, melainkan dari kedalaman refleksi bersama. Melalui terang Fratelli Tutti, kita diajak membangun kembali budaya mendengarkan dengan hati,” ujar Romo Galih dalam sesi pembekalan tersebut.

Melalui terang Fratelli Tutti, para suster PMY diajak membangun kembali budaya mendengarkan dengan hati.

Lebih lanjut, pendalaman Ensiklik ini menggarisbawahi peringatan penting dari Paus Fransiskus mengenai bahaya gaya hidup instan yang kian menguasai manusia modern. Dalam draf refleksi bab ke-49 dan 50 ensiklik tersebut, para suster diingatkan bahwa dunia digital yang bergerak terlalu cepat sering kali mereduksi keintiman komunikasi menjadi pesan singkat yang dangkal. Tanpa ruang keheningan, relasi antarmanusia, termasuk di dalam komunitas religius, terancam kehilangan kedalaman maknanya karena kecenderungan menyingkirkan hal-hal yang tidak bisa dipahami secara cepat.

Dampak emosional dari refleksi dua hari ini mulai terasa ketika para suster lintas generasi duduk bersama dalam lingkar dialog yang tenang. Keberagaman yang semula membayang sebagai hambatan, perlahan luruh dan bertransformasi menjadi rahmat yang menguatkan. Suster-suster muda merasa ruang batin mereka terpenuhi karena didengarkan dengan tulus, sementara para suster senior menemukan sukacita baru dalam mendampingi tunas-tunas panggilan tanpa harus menghakimi perbedaan zaman.

Melalui keheningan yang dipulihkan dan kerelaan untuk saling membuka diri, pertemuan ini berhasil meletakkan fondasi persaudaraan universal yang inklusif di dalam biara. Di tengah dunia yang kian individualis, secara khusus rumah formasi Suster PMY diajak terus berproses untuk menjadi pelita yang hidup. Komunitas suster PMY secara umum kembali meneguhkan panggilannya: bukan sekadar sebagai tempat bernaung, melainkan sebagai tanda kasih Allah yang nyata, yang merangkul setiap perbedaan demi pelayanan yang tulus kepada sesama.

Sr. Theresianne Trisnawati PMY

No More Posts Available.

No more pages to load.