Menemukan Kembali Wajah yang Terlupakan

oleh -305 Dilihat

Tidak terasa, kita telah memasuki kembali Masa Prapaskah, masa pantang dan puasa selama 40 hari. Masa Prapaskah selalu memanggil kita untuk berhenti sejenak dari kebisingan dunia dan kesibukan layar yang seringkali membuat hati kita mati rasa. Masa Prapaskah juga mengingatkan kita bahwa pertobatan sejati dimulai ketika kita berani menatap mata sesama dan menemukan wajah Kristus di sana—bukan melalui algoritma, melainkan melalui kehadiran yang nyata. Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi sempurna dalam citra duniawi, melainkan untuk menjadi utuh dalam kasih. Inilah saatnya melepaskan topeng-topeng kepalsuan kita dan membiarkan rahmat Allah menyentuh retakan-retakan di dalam jiwa, karena justru di dalam kerapuhan itulah cahaya pengampunan-Nya bekerja paling kuat.

Di tengah padang gurun modern ini, puasa yang paling berkenan bagi Allah bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan diri dari sikap acuh tak acuh. Kita diajak untuk “pulang” ke dalam batin, membersihkan debu-debu keegoisan yang menutupi kejernihan nurani.

So, mari kita jadikan masa Prapaskah tahun ini sebagai jembatan untuk kembali pada kesederhanaan hidup: lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, membawa perdamaian daripada pertengkaran/konflik, dan lebih banyak mengasihi daripada menghakimi. Dengan hati yang hancur namun terbuka, kita berjalan bersama menuju fajar kebangkitan, menyadari bahwa setiap langkah pertobatan adalah pelukan hangat dari Bapa yang telah lama menanti kepulangan kita.

No More Posts Available.

No more pages to load.