Dunia digital saat ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang eksistensial tempat manusia modern membangun identitas. Bagi para religius muda atau calon religius, secara khusus di Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef (PMY) yang mayoritas adalah milenial dan Gen Z, realitas digital adalah “rumah kedua” mereka. Namun, di tengah semaraknya media sosial, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh Kecerdasan Buatan (AI) dan algoritma; memunculkan tantangan mendasar yang digarisbawahi oleh Paus Leo XIV dalam Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60: Bagaimana mereka menjaga “wajah” dan “suara” manusia sebagai tanda kehadiran Allah yang tak tergantikan?

Hakikat Wajah dan Suara sebagai Sakramen Perjumpaan
Paus Leo XIV mengawali refleksinya dengan landasan antropologis yang sangat dalam. Beliau menggarisbawahi bahwa kata prósōpon (wajah) dan persona (suara) bukan sekadar aspek fisik, melainkan jembatan dalam berelasi. Bagi seorang religius muda atau calon suster, penting untuk diingat, bahwa wajah dan suara adalah instrumen utama dalam menjalankan spiritualitas dan karisma kongregasi. Wajah yang menampakkan kegembiraan dan cinta kasih, serta suara yang tenang dan menghibur adalah pantulan dari Sabda yang telah menjadi daging dalam diri Yesus Kristus.
Di era digital, tantangan inkarnasi ini menjadi kompleks. Ketika teknologi mampu meniru suara dan memanipulasi wajah melalui deepfake atau avatar, mereka berisiko kehilangan keunikan pribadi. Bagi para religius muda dan formandi di bina awal, refleksi ini memanggil mereka untuk menyadari, pertama-tama, bahwa mereka unik dan indah di mata Tuhan; dan panggilan religius tidak dapat diserahkan kepada mesin. Kesetiaan, empati, dan penyerahan diri dalam panggilan dan pelayanan adalah buah dari pergulatan batin yang nyata, bukan hasil olahan statistik. Pun perjumpaan fisik, secara khusus kepada sesama yang mereka kunjungi dan layani di gereja, lingkungan masyarakat/umat dan stasi, tidak akan pernah dapat tergantikan oleh perjumpaan lewat dunia maya.
Beberapa Tantangan
Salah satu poin krusial dalam pesan Paus adalah peringatan agar kita “jangan berhenti berpikir sendiri”. Algoritma media sosial dirancang untuk memanjakan emosi dangkal dan mengurung kita dalam “gelembung persetujuan” (echo chambers). Bagi kaum muda Gen Z yang terbiasa dengan kepuasan instan, hal ini dapat mengikis kemampuan kontemplatif. Jika buah keheningan adalah doa, bagaimana para religius muda dapat berdoa jika tidak ada kemampuan untuk hening? Jika waktu yang ada habis digunakan untuk scrolling HP?
Dalam formasi awal di rumah pembinaan maupun dalam formasi lanjutan, kemampuan untuk berefleksi, berpikir kritis dan mendalam adalah syarat mutlak. Jika seorang suster muda hanya mengonsumsi informasi yang disajikan oleh algoritma tanpa memverifikasi dan melakukan refleksi setelahnya, ia perlahan-lahan akan kehilangan kemandirian batinnya. Spiritualitas Suster PMY yang berakar pada kesederhanaan Maria dan Yosef menuntut ketajaman nurani untuk membedakan mana yang merupakan kebenaran Ilahi dan mana yang sekadar simulasi kebenaran. Selain itu, Paus menekankan bahwa menyerahkan proses kreatif kepada mesin berarti mengubur talenta diri yang telah Allah berikan bagi mereka.
Tantangan lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah fenomena chatbot yang tampak “penuh perhatian” dan selalu tersedia dapat menjadi jebakan emosional bagi individu yang merasa kesepian dan kekeringan rohani. Paus Leo XIV menyebut ini sebagai “simulasi relasi”. Teknologi ini sering kali menciptakan dunia cermin yang hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat, sehingga kita kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan diri kita yang sejati dan “sesama yang berbeda”.

Bagi religius, tidak pandang muda, medior atau senior; komunitas adalah tempat utama untuk belajar mencintai sesama dalam perbedaannya. Di sinilah critical thinking diperlukan: menyadari bahwa secanggih apa pun AI, ia tidak memiliki jiwa, tanggung jawab, apalagi kehangatan kasih. Relasi dengan Tuhan dan sesama harus tetap berjangkar pada realitas yang konkret. Setiap suster dipanggil untuk hadir secara utuh bagi mereka yang menderita sesusah apapun tantangan yang ada (misalnya language barrier dan cultural shock). Sebagai contoh, para formandi di kongregasi PMY memiliki kegiatan rutin kunjungan umat ke desa Buntu, Kejajar, Wonosobo. Mereka kebanyakan berasal dari luar Jawa, yang tidak mengetahui bahasa Jawa. Seringkali mereka mengalami kesulitan untuk memahami apa yang disampaikan oleh umat lansia dan sakit. Namun kehadiran yang tulus dan kemauan untuk mendengarkan mampu mengatasi tantangan bahasa. Terbukti dari munculnya kerinduan umat saat mereka tidak datang berkunjung karena kegiatan novisiat yang tidak bisa ditinggalkan.
Kemitraan yang Bijaksana: Tanggung Jawab dan Literasi
Paus tidak menolak inovasi teknologi, melainkan mengajak kita untuk membangun “kemitraan yang memungkinkan” melalui tiga pilar yaitu tanggung jawab, kerja sama, dan pendidikan. Secara khusus bagi rumah pembinaan Suster PMY di zaman now, literasi digital dan AI harus menjadi bagian dari kurikulum pembentukan karakter. Karena itu hendaknya para calon suster perlu dibekali kemampuan untuk:
- Memverifikasi sumber: Menghindari “halusinasi” informasi dan disinformasi digital. Penting untuk dapat membedakan mana berita hoax, mana yang terverifikasi.
- Menjaga privasi: Melindungi citra diri dan martabat manusia dari penyalahgunaan teknologi.
- Kesadaran Etis: Memahami bahwa di balik layar digital, ada kekuatan oligopoli yang memengaruhi perilaku manusia.
Formasi rohani dan teologi, humaniora, budaya, dan pengembangan kepribadian dan psikologi hendaknya berjalan beriringan dengan literasi teknologi. Hal ini bertujuan agar para religius muda tidak memperlakukan sistem AI seolah-olah manusia, melainkan menggunakannya sebagai alat untuk memperluas jangkauan pewartaan kasih Tuhan.
Menjadi Saksi yang Otentik
Menghidupi pesan Paus Leo XIV berarti berani menjadi “manusiawi” di tengah dunia yang semakin mekanis. Bagi para religius muda PMY, menjaga wajah dan suara berarti memastikan bahwa setiap kata yang diucapkan dan setiap tindakan yang dilakukan sungguh-sungguh berasal dari perjumpaan pribadi dengan Kristus, bukan sekadar kutipan anonim tanpa kasih.
Era digital adalah ladang misi baru yang menantang para religius muda dan calon suster PMY kedepannya untuk tetap memiliki “mata hati” dan “pendengaran hati”. Dengan menjaga otentisitas hati, wajah dan suara, mereka akan menjadi saksi bahwa di dunia yang serba digital, kasih Allah tetaplah nyata, personal dan tak tergantikan. Seperti Maria yang menyimpan segala perkara dalam hatinya, setiap suster diajak untuk merenungkan realitas digital dengan kearifan ilahi, agar teknologi tetap menjadi hamba bagi martabat manusia, dan bukan sebaliknya.

Sr. Emilia Fransiska Dian Widhowati PMY







