NULAND – Sekelompok kecil suster Congregatie Zusters van Liefde Dochters van Maria en Jozef (DMJ) berkumpul di pemakaman kongregasi di Nuland, Belanda, pada Kamis (13/2) sore. Kehadiran mereka merupakan bentuk penghormatan sekaligus peringatan 201 tahun wafatnya salah satu pendiri (co-founder) kongregasi, Zr. Anna Catharina van Hees, yang berpulang pada 14 Februari dua abad silam.

Para suster yang datang dari Den Bosch maupun komunitas Sint Jozefoord (Nuland) ini berdiri berdampingan dalam doa yang khusyuk. Di tengah udara sore yang tenang, mereka mengenang kembali tonggak sejarah yang diletakkan oleh Zr. Anna Catharina dalam membangun fondasi pelayanan kasih bagi sesama.

Kegiatan berlanjut dengan ramah tamah sederhana di ruang pertemuan Rosa de Lima. Sambil menikmati secangkir kopi bersama, para suster saling berbagi cerita dan menguatkan satu sama lain dalam ikatan persaudaraan yang erat. Meski berlangsung singkat, momen ini menjadi ruang penting bagi para suster untuk merekatkan kembali kesatuan hati di tengah dinamika pelayanan.
Sr. V. Wahyu Triningsih PMY menyampaikan bahwa peringatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momen untuk kembali ke “akar” spiritualitas mereka. “Dalam segala keterbatasan yang ada saat ini, kami ingin kembali menimba kekuatan dari semangat sang pendiri. Ketaatan, kesabaran, dan cinta kasih adalah warisan utama Sr. Anna Catharina yang harus tetap hidup dalam setiap pelayanan kami,” ujarnya.
Semangat Sr. Anna Catharina van Hees memang dikenal luas melalui kerendahhatian dan keteguhannya dalam mendampingi mereka yang terpinggirkan. Nilai-nilai inilah yang berusaha dijaga agar tidak luntur oleh zaman, terutama bagi para suster yang masih aktif melanjutkan karya cinta kasih di tengah masyarakat.
Bagi para suster yang hadir, ziarah ini meninggalkan kesan mendalam yang melampaui seremoni formal. Pertemuan ini menjadi pengingat bahwa di balik jubah dan tugas pelayanan, ada teladan seorang perempuan yang telah menyerahkan hidupnya sepenuhnya bagi kemuliaan Tuhan dan sesama.
Kegiatan ditutup dengan harapan agar setiap anggota kongregasi mampu membawa “api” yang sama ke dalam komunitas dan tempat karya masing-masing. Melalui peringatan ini, sosok Sr. Anna Catharina van Hees tidak lagi sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan teladan yang terus hidup dan berdenyut di dalam hati setiap Putri Maria dan Yosef.

*Sr. V. Wahyu Triningsih PMY







