SUKOHARJO – Sebanyak 8 novis dari empat kongregasi berbeda mengikuti Kursus Gabungan Novis (KGN) Analisis Sosial (ANSOS) yang berlangsung selama tiga hari, 19–21 Februari 2026. Bertempat di Novisiat MASF Gentan, Sukoharjo, para calon biarawan-biarawati ini diajak untuk keluar dari zona nyaman biara guna menyelami langsung perjuangan hidup masyarakat kecil dan buruh di pasar-pasar tradisional Kota Solo.
Kegiatan ini diikuti oleh novis tahun kedua dari Kongregasi Bruder FIC, serta para novis tahun pertama dari kongregasi MASF, SDP, dan PMY. Fokus utama kursus ini bukan sekadar teori sosial, melainkan upaya menanamkan rasa hormat terhadap martabat manusia melalui keterlibatan langsung dalam kerasnya perjuangan mencari nafkah.

Pada hari pertama, para peserta dibekali materi oleh Romo G. Kriswanta, Pr. yang membedah Ensiklik Mater et Magistra dan Laborem Exercens. Dalam sesi tersebut, ditekankan bahwa kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan perwujudan martabat manusia. “Kami diajak untuk menghargai dan menerima martabat orang lain, terutama mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi,” ungkap salah satu peserta merefleksikan pengajaran tersebut.

Puncak dari kursus ini terjadi pada hari kedua, saat para novis diterjunkan ke tiga lokasi berbeda: Pasar Legi, Pasar Gedhe, dan Pasar Gemblegan. Menariknya, mereka melakukan observasi ini dalam penyamaran. Tanpa atribut religius, mereka harus merasakan realitas menjadi orang biasa yang mencari pekerjaan kasar demi sesuap nasi dalam sehari.
Pengalaman di lapangan ternyata jauh dari kata mudah. Tanpa identitas sebagai calon religius, mereka harus menghadapi penolakan demi penolakan dari satu lapak ke lapak lainnya.
“Hati saya mau menangis ketika ditolak sampai enam kali,” ujar seorang suster yang ikut dalam kelompok observasi di pasar Gemblegan. Sementara seorang frater yang berada di Pasar Gedhe mengalami ditolak sebanyak sebelas kali. “Setelah ditolak sebanyak itu, saya lalu duduk diam dan berdoa memohon melalui Bunda Maria… Bunda, tolong ee. Dan dapatlah yang keduabelas itu.”
Rasa sedih dan lelah akibat penolakan tersebut menjadi pelajaran berharga tentang kerentanan yang dihadapi rakyat kecil setiap hari. Namun, melalui kegigihan dan apa yang mereka yakini sebagai Penyelenggaraan Ilahi, seluruh peserta akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan. Ragam profesi mereka jalani, mulai dari mengupas bawang, membantu menjual sayur dan buah, mencuci piring, menyetrika baju, hingga menjadi juru parkir.
Pada hari terakhir, Sabtu (21/2), para novis berkumpul kembali untuk berbagi kisah. Meski sempat merasa lemah karena penolakan, mereka menemukan makna mendalam bahwa sesederhana apa pun pekerjaan, hasilnya adalah “kehidupan” dalam bentuk makanan yang memberi mereka kekuatan fisik.

Melalui kegiatan ini, para calon religius ini belajar untuk tidak memandang rendah profesi apa pun. Pesan kuat muncul dari refleksi bersama mereka: “Jangan memandang rendah para pekerja dengan profesi apa pun, karena dari tangan merekalah kita mendapatkan kekuatan untuk melanjutkan hidup di dunia ini.”

Kursus ini ditutup dengan kesadaran baru bahwa para pekerja di pasar adalah perpanjangan tangan Tuhan. Pengalaman menyentuh ini diharapkan menjadi bekal bagi para novis agar kelak dalam pelayanan mereka, mereka tetap memiliki hati yang berpihak pada kaum kecil dan menghargai setiap tetes keringat sesama manusia sebagai bentuk kemuliaan Tuhan.
*Sr. Stefania Wipan Tena, Novis I PMY








