Renungan Minggu Prapaskah III
“Berilah Aku minum.” (Yohanes 4:7)
Dalam Injil (Yohanes 4:5-42), kita bertemu dengan Yesus yang lelah. Bayangkan, Sang Pencipta Samudra duduk di pinggir sumur dan berkata kepada seorang perempuan Samaria, “Berilah Aku minum.”
Inilah kerendahan hati Yesus. Dia tidak datang sebagai hakim yang membawa petir, melainkan sebagai musafir yang haus. Dia meruntuhkan tembok permusuhan berabad-abad antara Yahudi dan Samaria bukan dengan perdebatan, melainkan dengan Ahimsa—keutamaan tanpa kekerasan.
Ahimsa bukan sekadar tidak memukul; ia adalah sikap batin yang menolak untuk melukai martabat orang lain, bahkan dalam pikiran. Yesus menyentuh sisi paling kelam perempuan itu (masa lalunya yang retak) tanpa sedikit pun menghakiminya. Dia tidak menghancurkan “buluh yang terkulai,” melainkan meniupkan nafas baru padanya.
Sengsara yang Memerdekakan
Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma (5:1-8) mengingatkan kita bahwa kasih Allah dicurahkan melalui Roh Kudus. Kristus mati bagi kita bukan saat kita sudah suci, melainkan saat kita masih menjadi “pendosa”—saat kita masih penuh dengan kekerasan dan keangkuhan.
Inilah Jalan Sengsara yang dimulai sejak di sumur Yakub hingga ke bukit Golgota:
- Sengsara untuk Mengalah: Yesus membiarkan diri-Nya menjadi haus agar kita kenyang.
- Sengsara untuk Mengampuni: Di atas salib, Ahimsa mencapai puncaknya. Saat tubuh-Nya disiksa, hati-Nya tetap menjadi sumur pengampunan yang tak pernah kering.
Menjadi “Sumur” bagi Sesama
Bagi kita, Minggu Prapaskah III adalah undangan untuk kembali ke SUMBER dan menjadi “sumur air yang sejuk”, dengan:
- Berhenti Menghakimi (Ahimsa Batin): Seperti Yesus yang tidak mempermalukan perempuan Samaria, mari kita menjaga lisan dan jempol kita di media sosial agar tidak melukai sesama.
- Menerima Kerentanan: Kerendahan hati berarti berani mengakui bahwa kita pun “haus”. Jangan takut menunjukkan kelelahan dan kelemahan di hadapan Tuhan; karena di situlah rahmat-Nya mengalir.
- Kasih yang Bertahan: Sebagaimana Musa yang tetap memukul bukit batu meski hatinya perih karena omelan umat, marilah kita tetap setia melayani Gereja dan sesama demi Tuhan, tanpa meminta validasi.
Akhirnya, di pertengahan jalan Prapaskah ini, kita diajak untuk semakin menundukkan kepala, membiarkan hati kita dijamah oleh-Nya, sehingga sumur hati kita memancarkan air kerendahan hati yang mampu menyalakan api semangat dan misi di mana pun kita berada.





