YOGYAKARTA — Sekolah Helen Keller Indonesia (HKI), sebuah lembaga pendidikan khusus bagi anak-anak difabel ganda netra-rungu yang dikelola oleh Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Puteri Maria dan Yosef (PMY), resmi menginjak usia pelayanan ke-30 tahun. Momen bersejarah ini dirayakan secara internal melalui Ekaristi Syukur yang dipimpin oleh Romo Basilius Edy Wiyanto, Pr, bertempat di kompleks sekolah HKI pada Kamis, 25 Juni 2026 yang lalu.

Perayaan tiga dekade ini sengaja dikemas dalam kesederhanaan yang intim bersama para suster, guru, bapak-ibu pendamping asrama, serta segenap karyawan. Selepas perayaan ekaristi, seluruh pendamping karya kasih ini mengikuti rangkaian kegiatan semi rekoleksi. Di sana, mereka diajak berhenti sejenak dari rutinitas harian untuk merenungkan kembali jejak-jejak penyertaan Tuhan yang menghidupkan lembaga ini sejak tahun 1996.
Suasana haru sekaligus hangat menyelimuti sesi refleksi saat para guru dan pengasuh asrama bergantian membagikan kisah perjumpaan mereka dengan Anak-anak Berkebutuhan Khusus. Melalui komunikasi yang terbatas, para pendamping justru menemukan makna mendalam tentang arti kesetiaan sejati. Mereka menyaksikan bagaimana setiap anak mengekspresikan kehidupan batin yang murni di tengah keterbatasan fisik yang nyata.
Perwakilan penyelenggara dari Kongregasi Suster PMY menegaskan bahwa pelayanan di HKI bukan sekadar aktivitas pendidikan, melainkan sebuah kesaksian profetis yang mengingatkan dunia modern akan keluhuran martabat manusia di hadapan Allah.
“Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat karena kemajuan teknologi, anak-anak difabel ganda ini mengajak kita untuk kembali kepada hal yang paling mendasar: kasih, kesabaran, dan penerimaan. Kami belajar untuk tidak mengukur keberhasilan dari pencapaian yang besar atau perkembangan yang cepat. Melalui pelayanan ini, mari kita bersama-sama memperbarui semangat agar HKI selalu menjadi rumah yang menghadirkan harapan dan martabat bagi anak-anak serta keluarga mereka,” ungkap perwakilan Suster PMY dalam refleksi tersebut.

Bagi para pendamping, setiap kemajuan kecil yang ditunjukkan oleh anak-anak asuh—seperti satu langkah menuju kemandirian, satu keterampilan baru yang dikuasai, atau sekadar seulas senyum rasa percaya diri—merupakan hadiah berharga yang tak ternilai harganya. Proses ini secara perlahan justru ikut mengikis egoisme, membentuk ketekunan, dan memperkaya batin para pelayan itu sendiri.
Kehadiran Sekolah Helen Keller Indonesia selama tiga puluh tahun ini telah menjadi saluran berkat yang nyata, tidak hanya bagi tumbuh kembang Anak-anak Berkebutuhan Ganda, tetapi juga mengalirkan keteduhan bagi orang tua yang menitipkan buah hati mereka. Melalui ketulusan tangan-tangan para suster dan karyawan, anak-anak difabel ganda ini tidak lagi dipandang dari apa yang tidak mereka miliki, melainkan dihormati seutuhnya sebagai pribadi utuh yang memancarkan wajah kasih Allah bagi dunia.
Sr. Theresianne Trisnawati PMY







