PMY Indonesia – Di tengah suasana tenang dan udara sejuk Kota Wonosobo, sebanyak tujuh orang calon biarawati yang terdiri dari novis dan aspiran Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef (PMY) mengikuti pelatihan jurnalistik dan fotografi pada 14–15 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung di ruang pertemuan Komunitas Nazareth, Jalan Mangli No. 5 ini, bertujuan untuk membekali para peserta dengan kemampuan mengolah informasi dan menyebarkannya melalui media digital kongregasi.
Pelatihan selama dua hari ini menghadirkan Agustinus Suseno, Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Kevikepan Jogja Timur sekaligus pengembang website PMY, sebagai narasumber utama. Didampingi oleh Sr. Emilia, PMY, para peserta yang terdiri dari tiga orang novis dan empat aspiran ini mempelajari berbagai aspek fundamental, mulai dari nilai berita, teknik pengumpulan informasi, hingga etika tanggung jawab seorang jurnalis.

Agustinus Suseno menekankan pentingnya keterbukaan terhadap perkembangan zaman dalam karya pewartaan. Ia mengajak para peserta untuk bersikap adaptif terhadap teknologi terbaru, termasuk penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai alat bantu dalam jurnalisme digital tanpa meninggalkan sisi kemanusiaan.
“Kami berharap melalui pelatihan ini, para suster dan calon suster mampu mencari dan mengolah data secara mandiri. Tujuannya jelas, agar setiap informasi yang dibagikan melalui website dan media sosial kongregasi memiliki kualitas yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Agustinus di sela-sela materi.
Perjalanan belajar ini tidaklah instan. Di hari pertama, para peserta sempat bergelut dengan rasa kantuk saat menyimak teori yang cukup padat. Namun, suasana berubah menjadi antusias ketika narasumber mulai mengupas teknis pengambilan foto dan cara mengoperasikan perangkat digital dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Memasuki hari kedua, teori mulai dipraktikkan. Kompleks susteran PMY Wonosobo seketika berubah menjadi laboratorium kecil bagi para novis dan aspiran. Mereka berlatih memotret satu sama lain serta menangkap keindahan detail di lingkungan sekitar. Meski beberapa hasil foto masih memerlukan perbaikan, rasa bangga terpancar dari wajah para peserta saat melihat hasil karya pertama mereka.

Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan upaya menggali talenta yang Tuhan berikan untuk mendukung karya pelayanan. Melalui setiap kata yang dirangkai dan foto yang diabadikan, para calon biarawati ini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi perpanjangan tangan kongregasi dalam menyapa umat di ruang digital.
Harapannya, jemari yang kini belajar mengetik berita dan memegang kamera ini kelak dapat terus menyebarkan pesan kedamaian. Ketulusan dalam belajar dari kesalahan—seperti foto yang masih buram atau kalimat yang belum sempurna—menjadi langkah awal yang manis bagi mereka untuk mewartakan kasih Tuhan kepada khalayak yang lebih luas.
*Yuliana Ngadu, aspiran PMY







