Keheningan Minggu Palma di Kapel Susteran PMY

oleh -377 Dilihat

WONOSOBO – Di bawah naungan langit pagi yang tenang dan suasana yang hening, para Suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef (PMY) berkumpul di halaman Kapel Susteran PMY, Wonosobo, untuk merayakan Misa Minggu Palma pada Minggu (29/3/2026). Perayaan yang berlangsung di kompleks yang berdampingan dengan SLB Dena Upakara ini menjadi gerbang pembuka bagi para suster, secara khusus, memasuki Pekan Suci, mengenang peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem sekaligus menghayati kisah sengsara-Nya.

Di bawah naungan langit pagi yang tenang dan suasana yang hening, para Suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef (PMY) berkumpul di halaman Kapel Susteran PMY, Wonosobo, untuk merayakan Misa Minggu Palma pada Minggu (29/3/2026)

Misa berlangsung dengan khidmat, membawa suasana teduh bagi para suster, anak-anak SLB yang tinggal di asrama dan ibu pengasuh yang hadir. Minggu Palma tahun ini bukan sekadar seremoni perarakan daun palma, melainkan sebuah undangan mendalam untuk berhenti sejenak dan melihat kembali makna pengorbanan di tengah rutinitas pelayanan.

Misa Minggu Palma berlangsung dengan khidmat…

Dalam perenungan yang dibagikan selama liturgi, ditekankan bahwa setiap pribadi sesungguhnya sedang memikul “salib-salib kecil” dalam keseharian mereka. Salib tersebut seringkali mewujud dalam bentuk tantangan hidup, kelelahan dalam berkarya, hingga pergumulan batin yang tidak tampak oleh mata orang lain.

“Seringkali kita merasa salib yang kita pikul terasa sangat berat, bahkan sampai membuat kita ingin menyerah. Kita merindukan hidup yang selalu baik-baik saja tanpa persoalan,” ujar Rm. Galih Pr dalam homilinya. Namun, ia mengingatkan bahwa melalui kesetiaan memikul salib itulah, manusia diajak untuk meneladani cinta kasih Yesus yang tanpa batas.

“… dalam kesetiaan memikul salib itulah, manusia diajak untuk meneladani cinta kasih Yesus yang tanpa batas,” kata Rm. Galih Pr.

Kesetiaan menjadi poin utama yang digarisbawahi dalam Misa kali ini. Para suster diajak untuk tidak hanya mementingkan diri sendiri, tetapi mulai bertanya pada diri masing-masing: “Apakah aku rela menderita atau berkorban demi sesama?” Pesan ini terasa sangat relevan bagi komunitas religius yang mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan sosial dan pendidikan.

“Mari kita bersama-sama mengikuti teladan yang telah Tuhan Yesus berikan, dan memohon rahmat agar tetap setia memikul salib-salib kecil kita,” lanjutnya. Pesan persuasif ini mengajak setiap individu untuk mengubah keluh kesah menjadi kekuatan doa, seraya menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang berjalan sendirian dalam memanggul bebannya.

Pasio yang dibawakan oleh tiga suster PMY.

Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para suster. Suasana di sekitar SLB Dena Upakara yang inklusif menambah makna nyata dari pengorbanan; bahwa melayani mereka yang berkebutuhan khusus adalah salah satu bentuk nyata dari kesetiaan memanggul salib dengan penuh cinta.

Misa Minggu Palma ini pun ditutup dengan harapan agar Pekan Suci menjadi momen transformasi batin. Dengan semangat In Omnibus Caritas—cinta kasih dalam segalanya—para suster melangkah keluar dari kapel dengan hati yang dikuatkan, siap menyongsong hari raya Paskah dengan penuh sukacita dan pembaruan diri.

Luisa Magdalena Melati, aspiran PMY

No More Posts Available.

No more pages to load.