Belajar dari Kesederhanaan, Enam Calon Biarawati PMY Jalani Live-In Pembuatan Gula Jawa di Desa Grugu

oleh -622 Dilihat

PMY Indonesia – Sebanyak enam orang calon biarawati yang terdiri dari para Novis dan Aspiran dari Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef (PMY) melaksanakan kegiatan live-in kemasyarakatan di Desa Grugu, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu (21/1/2026) hingga Jumat (23/1/2026) ini, bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada para formandi dalam menghayati makna kehidupan melalui interaksi sosial dan kemandirian ekonomi lokal.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok yang tersebar di tiga dusun berbeda, yakni Dusun Citrolangu, Dusun Krengseng, dan Dusun Marong. Fokus utama dari program ini adalah mempelajari proses produksi gula jawa secara tradisional, mulai dari pengambilan air nira dari bunga kelapa hingga proses pemasakan menjadi produk siap jual.

“Tujuan utama live-in ini adalah belajar membuat gula jawa sekaligus menyelami arti sebuah kehidupan melalui kesederhanaan masyarakat Desa Grugu.

Pendamping para calon PMY, Sr. Emilia PMY, menyatakan bahwa program ini dirancang untuk membentuk karakter calon biarawati agar memiliki kepekaan sosial yang tinggi. “Tujuan utama live-in ini adalah belajar membuat gula jawa sekaligus menyelami arti sebuah kehidupan melalui kesederhanaan masyarakat Desa Grugu. Kami juga berharap para formandi dapat belajar menjadi pendengar yang baik bagi sesama,” ujarnya.

Di Dusun Marong, peserta tinggal bersama keluarga Guntoro dan Aminem. Di sana, mereka mempelajari teknik penyadapan nira yang dilakukan pada sore hari. Meski prosesnya terlihat sederhana, para formandi mengakui dibutuhkan ketelatenan tinggi untuk menghasilkan gula yang berkualitas. Selain aktivitas fisik, momen berdialog dengan warga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran ini.

Pengalaman berbeda dirasakan di Dusun Citrolangu, tempat Sr. Gerarda dan Putri menginap di rumah Bpk. Sumono. Mereka sempat mengalami kegagalan pada praktik pertama pembuatan gula jawa. Namun, atas bimbingan pemilik rumah, mereka berhasil mencetak gula pada percobaan berikutnya. Selain itu, mereka juga terlibat dalam aktivitas pertanian seperti menanam cabai dan mencari rumput (ngarit) untuk pakan ternak.

“Kami sangat bersyukur atas pengalaman ini. Kehidupan yang penuh kesederhanaan di sini mengingatkan kami pada kampung halaman. Paling tidak, ini menjadi pengobat rindu sekaligus sarana belajar untuk selalu rendah hati dalam menawarkan bantuan kepada siapapun,” ungkap salah satu peserta live-in.

“Kami sangat bersyukur atas pengalaman ini. Kehidupan yang penuh kesederhanaan di sini mengingatkan kami pada kampung halaman…..”

Nuansa keakraban juga mewarnai perjalanan di Dusun Krengseng. Di rumah Mbok Tumini, para peserta disambut layaknya keluarga sendiri. Interaksi yang hangat selama tiga hari tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para calon biarawati, terutama dalam melatih semangat pelayanan dan keterbukaan hati dalam menerima realitas kehidupan masyarakat pedesaan.

Kegiatan ditutup dengan refleksi bersama, di mana para peserta sepakat bahwa nilai-nilai kehidupan tidak hanya ditemukan dalam buku teori, tetapi juga dalam tetesan nira dan keramahan warga desa. Melalui kegiatan ini, para Novis dan Aspiran PMY diharapkan dapat membawa semangat kesederhanaan tersebut dalam perjalanan spiritual mereka selanjutnya.

*Para aspiran PMY

No More Posts Available.

No more pages to load.